Telp / SMS / WhatsApp : 0857-75-500-800

Author Archive for: admin

admin

About admin

Showing 31–40 of 134 results

  • Anyo Charity Run 2016 Bertepatan dengan hari Kasih Sayang atau Valentine, Yayasan Anyo Indonesia telah berhasil menggelar acara lari sambil beramal untuk yang kedua kalinya pada Minggu, 14 Februari 2016 di area The Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan. Ketika lari 10 kilometer bukan lagi menjadi ajang pamer sport shoes bernilai jutaan, Anyo Run benar-benar […]

    Anyo Charity Run 2016: Ketika Berlari Bukan Lagi Ajang Pamer Sport Shoes

    Anyo Charity Run 2016

    Bertepatan dengan hari Kasih Sayang atau Valentine, Yayasan Anyo Indonesia telah berhasil menggelar acara lari sambil beramal untuk yang kedua kalinya pada Minggu, 14 Februari 2016 di area The Flavor Bliss, Alam Sutera, Tangerang Selatan. Ketika lari 10 kilometer bukan lagi menjadi ajang pamer sport shoes bernilai jutaan, Anyo Run benar-benar mendobrak pintu tersebut dan menghadirkan kegiatan ‘berlari sambil beramal’ untuk menyambut Hari Kanker Anak Sedunia yang jatuh keesokan harinya (15 Februari).

    20160214_055159

    20160214_055438

    20160214_055820

    20160214_064831

    20160214_065030

    Yup! Tim ProSehat yang juga mendukung acara lari sambil beramal ini sudah menyaksikan keseruan acara ini dari subuh hingga selesai. 3.000 peserta lari yang sudah mendaftarkan diri juga sudah berkumpul sejak langit masih gelap (04.00 pagi), hingga saat lari tiba, yaitu pukul 06.00 pagi. Tentunya hal ini menjadi pemandangan yang sangat worth capturing, ketika banyak orang rela bangun di pagi buta untuk berlari, plus beramal bagi anak-anak penyandang kanker di Rumah Anyo milik Yayasan Anyo Indonesia.

    Yayasan Anyo Indonesia (YAI) sendiri merupakan yayasan sosial nirlaba, lintas suku dan agama yang didirikan di Jakarta pada tanggal 27 Juni 2012 lalu. Yayasan ini telah berhasil menggelar Anyo Charity Run & Festival pada 14 Februari 2016 kemarin di Tangerang, Flavor Bliss Alam Sutera. Pada kesempatan berharga ini pula, Founder ProSehat, dr. Gregorius Bimantoro sempat berbincang dengan ketua YAI, Ibu Pinta Manullang-Panggabean yang memaparkan alasan Anyo Run diselenggarakan.

    Menurut Ibu Pinta Manullang-Panggabean, “Kita harus peduli pada anak-anak penyandang kanker, dan jangan hanya di kulit saja. Maksudnya adalah bentuk kepedulian yang tidak hanya menyumbang materi, namun kita juga harus tahu kenapa dokter kanker anak masih sedikit, obat-obatan juga masih sedikit dan masalah-masalah seperti itulah yang kita coba bedah. Masyarakat atau siapapun yang benar-benar peduli wajib mengurai masalah tersebut.

    Selain lomba lari yang diadakan dalam 3 jarak (5k, 10k, dan 16,8 k), YAI juga membuka kesempatan bagi banyak pihak yang berkecimpung di peningkatan pelayanan kesehatan untuk membuka booth dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Tentunya hal ini akan menjadi peluang bagi mereka untuk memperkenalkan produk dan pelayanannya. Dan bahkan beberapa di antaranya menyumbangkan 2% dari hasil penjualan yang terjadi selama acara kepada anak-anak penyandang kanker di Rumah Anyo yang terletak di Jl. Anggrek Nely Murni, Blok A No. 110, Slipi, tepat di depan Rumah Sakit Kanker Dharmais. ProSehat tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Tim ProSehat juga membagikan voucher belanja pada setiap peserta lari Anyo Charity Run hari itu, di mana 2% dari hasil belanja dengan voucher yang didapat akan didonasikan kepada anak-anak penyandang kanker di Rumah Anyo. Selain booth, terdapat juga 1 panggung dengan penampilan artis papan atas yang mengisi acara pagi itu.

    Dengan acara lari sambil beramal yang akan rutin dirayakan pada saat hari kasih sayang tersebut, diharapkan masyarakat akan lebih aware dengan keberadaan anak-anak penyandang kanker di Indonesia.

    Bayangkan saja, dari jumlah keseluruhan anak-anak di Indonesia yang berjumlah hingga 60 juta jiwa, 2-3% dari mereka menyandang kanker. Angka tersebut cukup besar. Untuk itu Yayasan Anyo Indonesia juga mendirikan Rumah Anyo yang bersedia menampung anak-anak dengan gratis agar tetap bersemangat dalam menjalani hari, seperti yang pernah dilakukan Anyo saat ia masih ada,” tutup ibu Pinta Manullang-Panggabean.

    Semoga acara lari Anyo Run tahun depan akan lebih meriah dan akan ada banyak masyarakat yang berpartisipasi. ProSehat pun tidak akan kelewatan untuk berpartisipasi dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat Indonesia.

    Together, we can!

    Read More
  • Halo Rekan Sehat! Bagaimana kabar Anda? Pada tanggal 13 Februari yang lalu, Ngobrol Sehat Ngobrol Sehat part 5 telah berhasil menyita banyak perhatian Rekan Sehat di Twitter. Mungkin karena tema ngobrol sehat saat itu adalah tentang penyakit ganas yang menjadi momok wanita di dunia selain kanker payudara. Yup, tema ngobrol sehat kemarin adalah kanker serviks […]

    Ngobrol Sehat Part 5 Kanker Serviks Bersama dr. Bram Pradipta, SpOG

    Halo Rekan Sehat! Bagaimana kabar Anda?

    Pada tanggal 13 Februari yang lalu, Ngobrol Sehat Ngobrol Sehat part 5 telah berhasil menyita banyak perhatian Rekan Sehat di Twitter. Mungkin karena tema ngobrol sehat saat itu adalah tentang penyakit ganas yang menjadi momok wanita di dunia selain kanker payudara. Yup, tema ngobrol sehat kemarin adalah kanker serviks yang ditemani oleh dokter ahli Onkologi, yaitu dr. Bram Pradipta, SpOG. Dokter tamu kali ini aktif menulis karya ilmiah selama beliau menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia. Bahkan beberapa jurnal ilmiah tentang Obsgyn (Obstetri dan Ginekologi) beliau telah diterbitkan dalam jurnal kedokteran Indonesia. Dokter berprestasi ini patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, beliau juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Kluster Reproduksi Yasmin Kencana International Wing di RSCM dan pernah bekerja dalam HPEQ (Health Professional Education Quality) FKUI yang diselenggarakan oleh Dekanat FKUI. Sudah terbukti ya kejeniusan beliau dalam bidangnya, sehingga dengan bangga beliau kami undang untuk menjawab setiap pertanyaan Rekan Sehat pada Ngobrol Sehat part 5 Sabtu kemarin. Kesibukan dr. Bram saat ini adalah bertugas sebagai Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan di RS Gading Pluit, RS Mediros dan RSUD Koja. Selain itu beliau juga sibuk mengajar mahasiswa Fakultas Kedokteran yang kebetulan bertugas di Rumah Sakit Koja dan masih aktif menulis jurnal ilmiah.

    Tidak sempat mengikuti keseruannya? Jangan takut, kami akan rangkum untuk Anda dalam artikel ini.

    vaksinasi hpv kanker serviks

    Pertanyaan 1

    Sebenarnya apa itu kanker serviks ya dok?

    Jawaban

    Sebelumnya harus tahu dulu apa itu serviks. Serviks atau leher rahim adalah bagian kecil berbentuk silindris yang menghubungkan rahim dan vagina. Bagian ini menonjol ke vagina dan dapat dilihat saat pemeriksaan medis. Fungsi serviks ini adalah sebagai jalur aliran darah haid dari rahim keluar serta mengarahkan sperma pria menuju ke rahim dan saat persalinan akan terbuka hingga 10 cm. Jadi kanker serviks adalah kanker atau tumor ganas yang menyerang organ tersebut.

    Pertanyaan 2

    Apa penyebab dari kanker serviks?

    Jawaban

    Beberapa faktor risiko kanker serviks adalah hubungan seksual pada usia muda, hubungan seksual dengan banyak pasangan, laki-laki yang berisiko tinggi, tembakau, supresi sistem imun, nutrisi, serta penyakit hubungan seksual. Sekarang juga sudah diketahui selain faktor-faktor risiko tersebut, infeksi menetap virus Human Papilloma juga menjadi penyebab dari kanker serviks.

    Pertanyaan 3

    Berarti penyebab kanker serviks non-genetik ya dok? Kemudian apakah dokter bisa jelaskan sedikit tentang HPV?

    Jawaban

    Ya, kanker serviks tidak diturunkan (non-genetik). Sementara HPV adalah sekumpulan grup virus yang  menginfeksi manusia pada sel epitel di kulit dan membran mukosa. Tipe HPV saat ini mencapai lebih dari 100 tipe. Dari 100 tipe, hanya kurang dari setengahnya yang dapat menginfeksi saluran kelamin. Masing-masing tipe mempunyai sifat tertentu pada kerusakan epitel dan perubahan morfologi lesi yang ditimbulkan. Tipe yang dapat menyebabkan keganasan HPV adalah tipe 16, 18, 26, 27, 30, 31, 33-35, 39, 40, 42-45, 51-59, 61, 62, 64, 66-69 dan 71-74. Tipe HPV 16 dan 18 diketahui sebagai penyebab 70% dari kasus keganasan di serviks atau leher rahim wanita. Tipe HPV 6 dan 11 diketahui sebagai penyebab dari 90% kasus kutil kelamin (Condyloma accuminatum). Cara penularannya terutama adalah melalui kontak atau hubungan seksual sehingga vaksin yang ada saat ini juga berfokus kepada keempat serotipe tersebut.

    Pertanyaan 4

    Boleh dijelasakan tentang vaksin HPV itu sendiri dok?

    Jawaban

    Berawal dari keadaan bahwa pada lebih dari 90% kanker serviks didapatkan Infeksi HPV dan 70%nya merupakan HPV tipe 16 dan 18. Maka dipikirkan cara untuk mencegah infeksi menetap HPV dengan vaksin. Saat ini ada 2 produk vaksin kanker serviks, yaitu yang melindungi terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18 serta yang melindungi terhadap infeksi HPV 6,11,16 dan 18. Penelitian menyatakan bahwa vaksin tersebut dapat memberikan perlindungan terhadap HPV tipe lain atau proteksi silang, meskipun tidak setinggi proteksi terhadap HPV tipe 16 dan 18. Efektivitas proteksi vaksin terhadap HPV tipe 16 dan 18 sendiri mencapai hampir 100%. Vaksin sebaiknya diberikan sebelum pertama kali hubungan seksual.

    Pertanyaan 5

    Apakah ada aturan spesifik terkait usia, jenis kelamin atau kondisi kesehatan sebelum melakukan vaksinasi HPV?

    Jawaban

    Di beberapa negara, vaksin kanker serviks direkomendasikan untuk diberikan mulai usia 11 sampai 12 tahun, meskipun mungkin diberikan lebih awal lagi yaitu pada usia 9 tahun (karena tingginya angka hubungan seksual dini). Di Indonesia sendiri, vaksinasi ini direkomendasikan oleh Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia bersama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan batas usia minimal 10 tahun dan akan lebih baik bila belum aktif secara seksual. Kebijakan IDAI sampai saat ini hanya untuk anak perempuan saja. Tapi di USA, CDC juga menyarankan untuk pemberian pada anak laki-laki, karena juga dapat mencegah kanker penis, anus dan tenggorokan akibat HPV pada mereka. Vaksin HPV tidak boleh diberikan pada pasien yang alergi terhadap komponen vaksin HPV dan ibu hamil serta menyusui.

    Pertanyaan 6

    Lalu bagaimana dengan ibu-ibu yang sudah berumah tangga dan aktif secara seksual? Bentuk pencegahannya seperti apa?

    Jawaban

    Pertanyaan bagus. Sebetulnya dapat dilakukan pemeriksaan DNA HPV pada ibu tersebut. Apakah terdapat infeksi HPV baik tipe 16, 18 maupun serotipe penyebab kanker lainnya. Namun hal tersebut tidak cost effective karena bahkan bisa lebih mahal dari harga vaksin HPV. Kepada mereka masih dapat diberikan vaksin HPV dengan jadwal penyuntikan yang sama. Selain itu juga perlu tindakan pencegahan lain seperti membatasi jumlah pasangan seksual, berhenti merokok, melakukan pemeriksaan pap smear secara rutin, menjalani pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan yang cukup nutrisi dan bergizi, serta bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun harus menghindari hubungan intim sebelum waktunya.

    Pertanyaan 7

    Bagaimana cara terbaik untuk mencegah kanker serviks sedini mungkin?

    Jawaban

    Untuk mencegah kanker serviks adalah dengan membatasi pasangan seksual, jangan berhubungan seks sebelum waktunya, menggunakan kondom, berhenti merokok, hidup dengan nutrisi yang baik, olahraga teratur, melakukan vaksinasi HPV sejak dini, dan test pap smear rutin bagi yang sudah pernah berhubungan seksual.

    Pertanyaan 8

    Saya belum menikah tapi sudah pernah divaksin HPV, apakah vaksinnya bisa efektif? Perlukah diulang, dan tiap berapa tahun pengulangannya?

    Jawaban

    Vaksin HPV yang diberikan sebanyak 3 kali (yaitu 0-1-6 bulan untuk 2 serotipe dan 0-2-6 bulan untuk 4 serotipe) akan efektif dan memang lebih baik diberikan sebelum menikah atau berhubungan seksual. Sampai saat ini booster untuk vaksin HPV tidak disarankan.

    Pertanyaan 9

    Seberapa rentan wanita terkena kanker serviks, dok?

    Jawaban

    Berganti-ganti pasangan seksual meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Apabila seseorang berganti pasangan seksual lebih dari 5 orang dalam 2 tahun terakhir, kemungkinan meningkat sampai 12 kali lipat. Faktor risiko lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan pekerja seks komersial dan dari sumber itu membawa HPV kepada istrinya. Tembakau juga menjadi faktor risiko kanker ini karena bahan pembuat rokok merupakan substansi karsinogenik. Asap rokoknya sendiri juga menjadi polycyclic aromatic hydrocarbon heterocyclic nitrosamines. Seorang perempuan perokok memiliki konsentrasi nikotin pada getah serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Terdapat hubungan antara defisiensi asam folat, vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol dengan peningkatan risiko kanker. Berdasarkan data statistik di dunia, setiap 1 menit timbul 1 kasus baru dan setiap 2 menit terjadi 1 kematian akibat kanker serviks. Di Indonesia sendiri, setiap hari timbul 40-45 kasus baru dan 20 kematian akibat kanker serviks.

    Pertanyaan 10

    Gejala klinis seperti apa yang paling mudah diketahui sebelum dokter memvonis kanker serviks?

    Jawaban

    Kanker serviks memiliki beberapa gejala seperti perdarahan vagina yang tidak normal, vaginal discharge (keputihan sprt nanah, berbau), dan gejala lain seperti nyeri pinggul dan nyeri saat senggama. Perdarahan pasca berhubungan juga dapat terjadi. Pada tahap lanjut dari karsinoma serviks adalah gejala mudah lelah (akibat anemia), penurunan nafsu makan (yang menyebabkan penurunan berat badan) terdapatnya urin feses melalui vagina (karena adanya  fistel). Diagnosis pasti kanker serviks adalah melalui biopsy yang merupakan  pemeriksaan massa/tumor yang terdapat pada serviks. Dari pemeriksaan tersebut dapat diketahui tipe dari kanker serviks yang diderita oleh seseorang.

    Pertanyaan 11

    Mungkinkah wanita yang masih perawan bisa terjangkit kanker serviks?

    Jawaban

    Highly unlikely. Namun harus tetap diwaspadai bila pasien pernah melakukan hubungan secara oral seks, berganti seks toys atau biseksual.

    Pertanyaan 12

    Setelah melakukan vaksinasi HPV dan melakukan semua tindakan preventif, apakah kanker serviks masih bisa muncul karena faktor radikal bebas dan lain-lain?

    Jawaban

    Vaksin kanker serviks yang ada saat ini adalah untuk HPV tipe 16 dan 18. HPV tipe 16 dan 18 ini merupakan 70% dari penyebab kanker serviks yang terjadi. Jadi vaksin ini tidak memproteksi kurang lebih 30% kanker serviks yaitu yang tidak disebabkan oleh HPV tipe 16 dan 18. Bersamaan dengan faktor risiko lain yang tidak dihindari masih dapat membuat seseorang terkena kanker serviks. Karena itu deteksi dini seperti IVA dan atau Pap Smear wajib dilakukan meskipun sudah pernah melakukan vaksin HPV.

    Nah itu tadi beberapa pertanyaan dari Rekan Sehat pada Ngobrol Sehat part 5 Sabtu kemarin. Selesai sesi Ngobrol Sehat ini, dr. Bram Pradipta, SpOG juga berpesan terkait kanker serviks. Menurut beliau, kanker serviks adalah kanker yang mematikan. Angka kematian akibat kanker serviks masih sangat besar baik di dunia dan di Indonesia. Dan karena menyerang wanita mulai dari usia reproduktif tentu akan lebih menyedihkan, sebab kematian akibat hal tersebut dapat meninggalkan suami dan anak di usia relatif muda. Oleh karena itu penting untuk dilakukan tindakan pencegahan kanker serviks baik dari pola hidup dan vaksinasi HPV, serta pengetahuan dan kewaspadaan dari semua orang terhadap faktor risiko dan gejala dini kanker serviks untuk melawannya.

    “With awareness, there is hope. Together we can beat cancer!” tutup dr. Bram sore itu.

    Read More
  • Pada tahun 2013 di Indonesia, hampir 100.000 wanita terdiagnosa kanker serviks. Sedangkan di dunia, terdapat 528.000 kasus kanker serviks baru setiap tahunnya. Untuk kasus di Indonesia, masih banyak yang belum begitu paham dengan pentingnya vaksinasi HPV, padahal vaksin ini dapat menyelamatkan ribuan, bahkan jutaan wanita di dunia dari ancaman kanker serviks. Setiap wanita di dunia […]

    Cegah Kanker Serviks dengan Vaksin HPV

    Pada tahun 2013 di Indonesia, hampir 100.000 wanita terdiagnosa kanker serviks. Sedangkan di dunia, terdapat 528.000 kasus kanker serviks baru setiap tahunnya.

    Untuk kasus di Indonesia, masih banyak yang belum begitu paham dengan pentingnya vaksinasi HPV, padahal vaksin ini dapat menyelamatkan ribuan, bahkan jutaan wanita di dunia dari ancaman kanker serviks. Setiap wanita di dunia perlu mengerti keganasan kanker ini, karena menurut data WHO, setiap tahun ribuan wanita meninggal akibat kanker yang menyerang leher rahim ini.

    Salah satu penyebab kanker serviks selain gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, memulai aktivitas seksual pada usia yang muda (di bawah 18 tahun) dan kehidupan seksual yang tidak sehat, adalah paparan Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18 yang bersifat onkogenik (penyebab kanker). Virus ini adalah salah satu penyebab kanker serviks pada wanita yang merupakan satu golongan virus dengan 100 jenis macamnya. Dan lebih dari 99% kasus kanker serviks yang terjadi pada wanita, beberapa di antaranya telah terinfeksi virus ini.

    Pemberian vaksin HPV akan mencegah transmisi virus ini. Dengan vaksin ini, virus tersebut akan terhalang masuk ke dalam tubuh. Vaksin yang dibuat dengan teknologi rekombinan berpotensi mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan infeksi HPV genitalia.

    Terdapat 2 jenis vaksin HPV, yaitu:

    1. Vaksin Bivalen (tipe 16 dan 18)
    2. Vaksin Quadrivalen (tipe 6, 11, 16, 18)

    Vaksin HPV memiliki efikasi 96-100% untuk mencegah penyebaran HPV tipe 16/18 yang akan menyebabkan kanker serviks. Tidak perlu takut, karena vaksin HPV telah disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). Sedangkan di Indonesia sendiri, vaksin ini sudah diizinkan oleh badan POM RI.

    Vaksinasi HPV ini sudah dapat diberikan sejak usia 9 tahun dan ternyata vaksinasi HPV tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang berusia 9-26 tahun saja, bahkan wanita usia 55 tahun masih diperbolehkan melakukan vaksinasi ini. Dan bagi yang sudah pernah melakukan hubungan seksual diperlukan Test Pap Smear terlebih dahulu untuk mengetahui apakah sudah terinfeksi kanker serviks.

    Mengingat ancaman dari kanker serviks, bentuk pencegahan yang paling nyata adalah dengan menjalani gaya hidup dan hubungan seksual yang sehat, serta melakukan 3x vaksinasi HPV untuk mencegah transmisi HPV dan rutin melakukan test Pap Smear (bagi yang sudah berkeluarga).

    Vaksinasi di Sini untuk Cegah Transmisi Virus Human Papilloma (HPV) Penyebab Kanker Serviks

    Referensi:

    Read More
  • Halo Rekan Sehat! Pada tanggal 4 Februari 2016 kemarin telah diadakan Ngobrol Sehat part 4 yang membahas Kanker pada Anak. Temanya terdengar menyeramkan ya? Walaupun begitu ada baiknya kita yang mungkin memang tidak memiliki anak atau kerabat dengan kanker juga mengetahui sedikit tentang seluk beluk kanker anak. Pada Ngobrol Sehat part 4 kemarin dokter narasumber […]

    Ngobrol Sehat Part 4 – Kanker Anak Bersama dr. Edi Setiawan Tehuteru, SpA(K), MHA, IBCLC

    Halo Rekan Sehat!

    Pada tanggal 4 Februari 2016 kemarin telah diadakan Ngobrol Sehat part 4 yang membahas Kanker pada Anak. Temanya terdengar menyeramkan ya? Walaupun begitu ada baiknya kita yang mungkin memang tidak memiliki anak atau kerabat dengan kanker juga mengetahui sedikit tentang seluk beluk kanker anak. Pada Ngobrol Sehat part 4 kemarin dokter narasumber yang menjawab setiap pertanyaan Rekan Sehat pernah mendalami kanker hematologi dan onkologi RSCM, jadi dr. Edi Setiawan Tehuteru, SpA(K), MHA, IBCLC tahu betul seluk beluk kanker pada anak.

    12646884_1704461969788141_5172528775083884178_o

    Apakah Rekan Sehat ikut berpartisipasi dalam Ngobrol Sehat part 4 kemarin? Jika tidah, berikut rangkuman Ngobrol Sehat tentang Kanker Anak dalam bentuk Tanya Jawab yang diambil dari FB Fanpage Prosehat.

    Pertanyaan 1

    Dok, saya mau tanya, apakah seorang ibu dengan/pernah menyandang kanker dapat menularkan penyakit tersebut ke janinnya jika ia kebetulan sedang hamil? Biasanya kanker pada anak dapat dideteksi pada usia berapa?

    Jawaban

    Terima kasih atas pertanyaannya. Pertama, kanker itu tidak menular. Jadi tidak benar bahwa ibu dapat menularkan kanker kepada janinnya. Kedua, dari sekian banyak jenis kanker pada anak, baru satu yang dapat dideteksi dini, yaitu kanker bola mata atau Retinoblastoma.

    Pertanyaan 2

    Dok, kenapa kanker pada anak berbeda dengan kanker dewasa? Apa yang membedakannya, dok?

    Jawaban

    Sederhana saja, kanker pada anak tidak diketahui penyebabnya, tidak dapat dicegah, dan hanya Retinoblastoma atau Kanker Bola Mata yang dapat dideteksi dini. Sedangkan kanker yang menyerang orang dewasa bisa dicegah dengan gaya hidup yang lebih sehat, seperti tidak merokok dan makan makanan yang sehat jika tidak ingin terkena kanker usus besar.

    Pertanyaan 3

    Kanker anak jenis apa yang paling berbahaya dan paling besar kejadiannya di Indonesia? Bagaimana menanggulangi kanker pada anak? Adakah tindakan lain selain melalui jalur medis?

    Jawaban

    Kalau yang namanya kanker, semua ya berbahaya, karena kemampuannya untuk menyebar. Dan jenis kanker yang paling banyak dijumpai pada anak adalah kanker darah atau Leukimia. Kanker pada anak dapat ditanggulangi dengan menyebarluaskan informasi tentang gejala kanker pada anak ke orang tua dengan harapan orang tua dapat mewaspadai dan segera membawa anaknya ke dokter untuk tujuan konfirmasi. Kalau ternyata bukan kanker, kita patut bersyukur. Tapi kalau ternyata memang kanker, kita juga patut bersyukur karena artinya masih stadium awal dan jika ditemukan pada stadium tersebut kemungkinan ia sembuh lebih besar dibanding jika ia ditemukan pada stadium lanjut.

    Pertanyaan 4

    Untuk kanker mata sendiri dok, dapatkah dideteksi secara dini? Apa saja indikasinya?

    Jawaban

    Memang hanya retinoblastoma atau kanker bola mata yang dapat dideteksi dini. Deteksi dini itu dilakukan terhadap semua anak balita yang ada, bahkan yg sehat sekalipun.

    Pertanyaan 5

    Dok, saya baru baca kisah anak leukemia yang terlambat dideteksi. Apakah gejalanya memang sulit dibedakan?

    Jawaban

    Gejala leukemia itu pucat, demam, dan perdarahan. Ketiga gejala ini terjadi karena sel leukemia jahat yang mendesak pabrik sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit atau keping darah. Oleh karena itu, sepintas gejalanya kadang bisa menyerupai penyakit lain, seperti flu atau demam berdarah. Itulah pentingnya orang tua mewaspadai gejala-gejala ini agar tidak terlambat menangani anak yang kita curigai terkena leukemia.

    Pertanyaan 6

    Gejala Leukimia tersebut timbul berulang dalam waktu lama atau bagaimana dok? Soalnya kalau hanya flu, biasanya hanya diberikan obat flu biasa, dan jarang dibawa ke dokter.

    Jawaban

    Berkaitan dengan demam, biasanya demamnya itu tidak sembuh-sembuh untuk waktu yang cukup lama dan kadang kita juga tidak mengetahui penyebabnya. Nah demam seperti itu yg harus kita curigai. Kalau musim demam berdarah, biasanya DBD akan sembuh dalam tujuh hari. Dan jika sudah lebih dari seminggu trombosit tidak naik, patut dicurigai demam ini Leukimia atau bukan.

    Pertanyaan 7

    Apakah kanker pada anak anak benar-benar tidak bisa dicegah?

    Jawaban

    Jawaban singkat, ya. Walaupun begitu, sebagai orang tua tetap harus mengajarkan pola hidup yang baik sejak anak masih kecil. Tujuannya bukan untuk mencegah anak terkena kanker saat mereka masih kecil, namun untuk mencegah mereka terkena kanker saat mereka dewasa.

    Pertanyaan 8

    Apakah makanan dengan pengawet dan penguat rasa (MSG) menjadi andil dalam pertumbuhan sel kanker pada anak?

    Jawaban

    Sepengetahuan saya, iya. Oleh karena itu upayakan anak-anak makan makanan yang dimasak sendiri sehingga dapat diatur dan diawasi apa saja yang masuk ke tubuh mereka.

    Pertanyaan 9

    Apakah penyakit kanker pada anak adalah faktor keturunan (genetik dari kedua orang tua), perilaku konsumsi ibu saat kehamilan, atau baru kebiasaan dan perilaku anak setelah kehamilan?

    Jawaban

    Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan diturunkan adalah bila jenis kanker yang diturunkan itu sama. Jadi bukan misalnya ibunya kena kanker A anaknya kena kanker B. Jenis kanker pada anak yg sudah terbukti diturunkan adalah kanker bola mata atau Retinoblastoma. Artinya, bila dalam keluarga ada anak yang terkena kanker bola mata, maka bila keluarga itu berniat punya anak lagi, maka anak yang berikutnya punya potensi untuk terkena kanker bola mata juga. Maka dari itu, jika sampai anak ini lahir, sejak lahir ia harus rajin kontrol ke dokter mata sampai usia 5 tahun karena kanker bola mata hanya terjadi pada balita.

    Pertanyaan 10

    Dapatkah kanker pada anak disembuhkan secara total, misalnya dengan kemoterapi, operasi atau konsumsi obat tertentu?

    Jawaban

    Pasien kanker dapat disembuhkan dengan catatan jika ditemukan dalam kondisi atau stadium yang masih awal. Jika sudah lanjut, kemungkinan sembuh tetap ada, namun tidak sebesar kemungkinan sembuhnya dibanding bila ditemukan pada kondisi atau stadium yang awal. Sampai saat ini yang dapat menyembuhkan kanker hanya ada tiga modalitas, yaitu kemoterapi radiasi dan operasi. Tidak ada cara lain selain 3 hal tersebut.

    Pertanyaan 11

    Berapa persen kemungkinan anak yang terkena kanker dapat sembuh dan hidup normal seperti anak lainnya?

    Jawaban

    Jika ditemukan pada kondisi atau stadium yg awal bisa mencapai 70-80%.

    Pertanyaan 12

    Sebenarnya seberapa umum kasus kanker pada anak di Indonesia (terutama), dok?

    Jawaban

    Kanker pada anak jika diperhatikan hanya 2-3% dari kanker secara keseluruhan. Di Indonesia itu jumlah nyatanya 4.100 kasus baru setiap tahunnya. Bukan jumlah yang sedikit kan?

    Pertanyaan 13

    Apa definisi dari kanker dan penyebab utama dari penyakit tersebut?

    Jawaban

    Masyarakat memang sering dibingungkan dengan istilah tumor dan kanker. Tumor itu merupakan nama lain dari benjolan. Benjolan itu ada yang jinak dan ada yang ganas. Tumor atau benjolan yang ganas itulah yang disebut kanker.

    Pertanyaan 14

    Bagaimana cara menghadapi mental orang tua yang mungkin/bisa saja hancur saat mengetahui bahwa anaknya mengidap kanker? Pasti mereka punya perasaan bersalah, kan?

    Jawaban

    Yang jelas kita harus jujur terhadap apa yang terjadi pada anak mereka. Memang tidak mudah menerima kenyataan kalau anak kita terkena kanker,a namun apa pun yang terjadi, mereka harus menerima kenyataan ini. Kita dapat mendukung orang tua dengan pendekatan psikologis maupun spiritual.

    Pertanyaan 15

    Apakah ada cara untuk mendeteksi secara dini kanker pada anak? Dan bagaimana pencegahan kanker pada anak?

    Jawaban

    Kanker pada anak tidak dapat dicegah, dan kalau dideteksi dini baru 1 yang bisa dilakukan, yaitu kanker bola mata atau Retinoblastoma. Sementara itu kanker yang lainnya orang tua harus mewaspadai gejalanya. Untuk kanker darah atau leukemia, waspada bila anak tampak pucat demam dan ada perdarahan. Sementara untuk tumor padat, waspada bila ada benjolan di bagian tubuh manapun pada anak.

    Pertanyaan 16

    Di manakah di Indonesia, tempat terbaik yang dapat merawat/menampung/treat anak-anak penyandang kanker?

    Jawaban

    Kalau di Jakarta, ada 5 rumah sakit yang menangani anak penyandang kanker, yaitu RSCM, RSKD, RSAB Harapan Kita, RSPAD Gatot Subroto dan RS Fatmawati. Untuk di luar Jakarta pada umumnya ada di masing-masing rumah sakit provinsi.

    Nah, itu tadi sesi Ngobrol Sehat part 4 tentang Kanker Anak dengan narasumber dr. Edi Setiawan Tehuteru, SpA(K), MHA, IBCLC. Sebagai kata akhir, beliau juga berpesan untuk orang tua agar mencari informasi tentang gejala kanker dan jika ditemukan gejalanya pada anak, harus segera dibawa ke dokter untuk konfirmasi. Seandainya memang benar kanker, jangan tunda untuk segera diobati sebab mengobati kanker itu berpacu dengan waktu agar tidak luas penyebarannya dan pada akhirnya masih dapat disembuhkan.

    Bagaimana? Menarik bukan? Semoga ilmu yang disharing melalui Ngobrol Sehat bersama ProSehat dapat membawa banyak manfaat. Nantikan ngobrol sehat part 5 tentang Kanker Pada Wanita (Payudara dan Serviks) Minggu depan, ya!

    Read More
  • Mungkin banyak yang mengira bahwa penyakit kanker hanya menyerang orang tua. Menurut dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A., kanker dapat terjadi pada setiap orang, tidak pandang bulu usia, jenis kelamin atau bahkan ras. Ya, kanker dapat menyerang setiap orang, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan angka kejadian kanker anak diperkirakan berkisar antara 2-3% dari kasus […]

    Kanker Juga Bisa Menyerang Anak

    Mungkin banyak yang mengira bahwa penyakit kanker hanya menyerang orang tua. Menurut dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A., kanker dapat terjadi pada setiap orang, tidak pandang bulu usia, jenis kelamin atau bahkan ras. Ya, kanker dapat menyerang setiap orang, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Bahkan angka kejadian kanker anak diperkirakan berkisar antara 2-3% dari kasus kanker secara keseluruhan.

    kanker anak

    Jika persentase tersebut disuguhkan dalam bentuk angka yang nyata, kurang lebih 4.100 kasus kanker anak terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Angka tersebut tentunya bukan angka yang kecil. Antara tahun 2006 sampai 2009, di Rumah Sakit Kanker Darmais sendiri kasus kanker anak meningkat perlahan namun pasti. Hal ini juga ditegaskan oleh WHO yang memprediksi bahwa pada tahun 2020 jumlah kasus kanker di negara-negara berkembang akan meningkat hingga 50% dibandingkan tahun ini.

    Kemudian apa yang harus dilakukan untuk mencegah kanker menyerang anak? Jawabannya mungkin terdengar klise, tapi kanker pada anak tidak dapat dicegah. Dari sekian jumlah kanker pada anak, hanya 1 jenis kanker yang dapat dideteksi secara dini. Membangun kesadaran akan bahaya kanker dan mengupas tuntas gejala-gejala yang timbul menjadi satu-satunya cara untuk memperkecil risiko kanker tersebut.

    Penyebab Kanker Anak

    Mungkin banyak orang tua yang merasa kecolongan dan akhirnya menyalahkan diri mereka sendiri yang tidak dapat melihat gejala dari suatu kanker yang menyerang anak mereka. Hingga kemudian mereka bertanya, apa penyebab kanker pada anak? Jawabannya sulit dan hampir semua bahan bacaan tentang kanker di dunia menyatakan bahwa penyebab kanker pada anak hingga saat ini belum diketahui dengan pasti. Bahkan beberapa pakar di belahan dunia lain sempat mencoba mengaitkan kejadian kanker anak dengan lingkungan yang ada di sekitar anak-anak. Hal tersebut masih berupa perkiraan, belum menjadi suatu teori yang jelas dan pasti.

    Upaya yang tepat untuk mengatasi kanker pada anak dengan permasalahan yang ditemui untuk perawatan mereka adalah dengan melakukan sosialisasi terhadap orang tua tentang gejala-gejala kanker pada anak mereka. Mungkin tindakan ini tidak akan berpengaruh terhadap lonjakan kasus kanker anak yang terus meningkat, namun hal ini tentunya dapat membangun kesadaran untuk dengan cepat mengetahui gejala yang muncul pada stadium awal. Secara teori, jika seorang anak dengan kanker ditemukan masih dalam keadaan stadium awal, kemungkinan ia sembuh lebih besar dibandingkan ketika ia ditemukan dalam keadaan stadium lanjut.

    Menurut Departemen Onkologi Anak RSKD, jumlah kasus kanker pada anak yang dirawat dan sudah dalam keadaan stadium lanjut sekitar 43% dari keseluruhan kasus kanker. Mengetahui hal tersebut, dilakukanlah sosialisasi secara gencar dengan memanfaatkan berbagai media yang ada. Kemudian pada tahun 2008, jumlahnya turun hingga 35%. Dan pada tahun 2009, jumlahnya turun hingga 34,3%. Perubahan tersebut sangat signifikan.

    Melalui tulisan ini dan tulisan lain yang akan kami share pada minggu pertama bulan Februari ini, semoga akan lebih banyak lagi orang tua yang mengerti dengan jelas gejala apa saja yang harus diwaspadai bila dicurigai si kecil terkena kanker. Dan jika sudah yakin, jangan ragu untuk segera membawa si kecil ke rumah sakit untuk mengkonfirmasi gejala yang timbul tersebut apakah benar kanker atau bukan. Oleh karena itu, jangan pernah bosan mensosialisasikan gejala kanker pada anak, khususnya kepada orang tua.

    Narasumber:

    dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A. (TanyaDok.com)

    Read More
  • Hallo Rekan Sehat! Pada tanggal 29 Januari 2016 yang lalu telah diadakan Ngobrol Sehat part 3 tentang Obesitas Anak bersama dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK di Instagram ProSehat. Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part 3 kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Stella dengan pertanyaan terkait dengan obesitas pada anak. […]

    Ngobrol Sehat part 3 Tentang #Obesitas Anak dengan dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK

    Hallo Rekan Sehat!

    Pada tanggal 29 Januari 2016 yang lalu telah diadakan Ngobrol Sehat part 3 tentang Obesitas Anak bersama dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK di Instagram ProSehat. Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part 3 kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Stella dengan pertanyaan terkait dengan obesitas pada anak.  Apakah Rekan Sehat juga berpartisipasi dalam ngobrol sehat part 3? Jika tidak, berikut rangkuman beserta pertanyaan yang diutarakan oleh kami dan Rekan Sehat yang kemudian dijawab oleh dr. Stella secara langsung.

    12568194_1675422216063204_307394012_n

    Pertanyaan 1:

    Sebenarnya apa yang dimaksud dengan obesitas pada anak, ya dok?

    Jawaban:

    Obesitas pada anak dilihat dari status gizi berdasarkan pengukuran berat serta tingginya. Jika berlebih dan melewati Index Massa Tubuh (IMB), maka ia dikategorikan obesitas.

    Pertanyaan 2:

    Apa perbedaan obesitas pada anak dan orang dewasa? Apakah jauh lebih berbahaya dampak yang akan dialami si kecil jika ia obesitas, dok?

    Jawaban:

    Ya, tentunya akan lebih berbahaya jika si kecil sudah obesitas sejak ia kecil. Beban kerusakan organ tubuhnya juga akan dimulai sejak dini dan berakibat fatal di saat ia dewasa dan masih obesitas.

    Pertanyaan 3:

    Bagaimana cara mencegah obesitas anak? Makanan apa saja yang harus dihindari atau dikurangi?

    Jawaban:

    Agari tidak terjadi obesitas, makan sesuai pola gizi yang seimbang, cukup air dan aktivitas fisik. Hindari cemilan seperti gorengan dan yang terlalu manis. Perbanyaklah sayuran dan buah-buahan.

    Pertanyaan 4:

    Masalah kesehatan apa yang akan terjadi pada anak yang obesitas? Bagaimana cara penanganannya?

    Jawaban:

    Obesitas anak tentunya akan mengganggu kenyamanan anak dalam aktivitas. Ia akan mudah sesak nafas saat berlari, kaki yang tidak kuat menyangga badan dan gangguan organ tubuh seperti jantung, hati, dan lain-lain, karena timbunan lemak berlebihan di tubuhnya. Penanganan yang tepat adalah dengan mengurangi asupan kalori, perbanyak sayuran dan buah, serta meningkatkan aktifitas fisik si kecil setiap harinyaa.

    Pertanyaan 5:

    Faktor apa saja yang menyebabkan anak obesitas?

    Jawaban:

    Keturunan hanya mempengaruhi obesitas anak sebesar 20 persen. Ketahui bahwa pengaruh terbesar adalah pola hidup, jenis makanan yang ia konsumsi, atau ketika ia sakit, serta faktor lingkungan dan ketersediaan sumber makanan.

    Pertanyaan 6:

    Kriteria apa saja yang dapat mengkategorikan seorang anak mengalami obesitas? Apa yg harus kita waspadai sebelum mereka masuk dalam kategori tersebut?

    Jawaban:

    Kriteria obesitas anak dapat dilihat dari pengukuran status gizi yang biasa dilakukan berdasarkan berat badan dan tinggi badan setiap bulan lalu dicocokkan dengan kurva di buku KMS atau kurva yg dikeluarkan CDC dan WHO. Jika masuk kriteria obesitas, maka sebaiknya mulai diperhatikan jenis dan jumlah asupan makanan dan minumannya.

    Pertanyaan 7:

    Adakah cara praktis dan tepat untuk mendeteksi secara dini adanya masalah gizi dalam hal obesitas pada anak, dok?

    Jawaban:

    Lakukan kontrol berat badan dan tinggi badan setiap bulan di sarana kesehatan atau cocokkan dengan grafik pada buku KMS.

    Pertanyaan 8:

    Bagaimana cara mengontrol nafsu makan berlebih pada anak ketika anak sedang dalam masa pertumbuhan?

    Jawaban:

    Mudah saja. Atur jadwal pemberian makan dan berikan mereka asupan kaya akan serat seperti sayur dan buah. Pada saat seperti itu Ibu bisa lebih kreatif mengkreasikan makanan dan cemilan sehat untuknya.

    Pertanyaan 9:

    Berpengaruhkah obesitas terhadap tingkat kecerdasan anak?

    Jawaban:

    Tentu saja. Seperti contohnya si kecil yang mengkonsumsi banyak makanan, melebihi asupan yang disarankan perharinya dapat dengan mudah membuat ia mengantuk. Jika mudah mengantuk, ia akan kesulitan untuk berkonsentrasi dan lambat (akhirnya) dalam menangkap pelajaran yang diberikan di sekolah.

    Pertanyaan 10:

    Apa yang menyebabkan obesitas anak, apakah makanan berat atau cemilan dan susu? Lalu perlukah menu tertentu makanan harian yang dikonsumsi agar anak terhindar obesitas?

    Jawaban:

    Obesitas anak terjadi karena jumlah asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi terlalu berlebihan. Menu harian dari jumlah, jenis dan jadwal makan dengan salah satu caranya memperbanyak cemilan sehat seperti buah-buahan tentunya harus dilakukan untuk menghindari obesitas anak.

    Pertanyaan 11:

    Adakah kaitannya obesitas anak dengan penyakit menyeramkan seperti jantung atau kanker?

    Jawaban:

    Ya, ada tentunya. Obesitas menyebabkan peningkatan inflamasi dan zat prooksidan yang dapat merusak sel-sel di dalam tubuh si kecil.

    Pertanyaan 12:

    Sebaiknya saya memberikan susu yg seperti apa setelah waktu wajib ASI si kecil selesai? Apakah UHT atau Susu Formula? Jika susu formula sebaiknya yang seperti apa? Apakah dengan kandungan sukrosa atau tidak?

    Jawaban:

    Susu UHT maupun susu formula sama-sama mengandung kalori yang berasal dari karbohidrat, protein dan lemak. Dan yg harus diperhatikan adalah jumlah kalori di dalam asupan makanan dan minuman yg diberikan pada anak. Pantau dari status gizinya yaitu dengan timbang berat badan dan ukur tinggi badannya setiap bulan di sarana kesehatan terdekat atau dokter gizi Anda.

    Nah itu tadi beberapa pertanyaan dengan jawaban hasil Ngobrol Sehat part 3 dengan dokter spesialis gizi anak, dr. Stella E. Bela, M.Gizi, SpGK. Temukan pertanyaan beserta penjelasan lainnya di sini.

    Read More
  • Hallo Rekan Sehat! Bagaimana kabar Anda hari ini? Pada tanggal 24 Januari 2016 yang lalu telah diadakan Ngobrol Sehat part 2 tentang Tumbuh Kembang Anak bersama dr. Eva Devita, SpA. di fanpage FB ProSehat. Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part 2 kemarin, membanjiri linimasa kami dan […]

    Ngobrol Sehat Part 2 Tentang Tumbuh Kembang Anak dengan dr. Eva Devita, SpA

    Hallo Rekan Sehat! Bagaimana kabar Anda hari ini?

    Pada tanggal 24 Januari 2016 yang lalu telah diadakan Ngobrol Sehat part 2 tentang Tumbuh Kembang Anak bersama dr. Eva Devita, SpA. di fanpage FB ProSehat. Acaranya berlangsung dengan sangat meriah, karena banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part 2 kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Eva dengan pertanyaan terkait dengan tumbuh kembang anak.  Apakah Rekan Sehat juga berpartisipasi dalam ngobrol sehat part 2? Jika tidak, berikut rangkuman beserta pertanyaan yang diutarakan oleh kami dan Rekan Sehat yang kemudian dijawab oleh dr. Eva secara langsung.

    12622270_1699974646903540_8329714281763058207_o

    Pertanyaan 1:

    Apa yang mempengaruhi tumbuh kembang pada anak, ya dok?

    Jawaban:

    Pertama kita harus membedakan pertumbuhan dan perkembangan terlebih dahulu. Pertumbuhan adalah pertambahan dalam ukuran fisik seorang anak (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala) sedangkan perkembangan adalah bertambahnya keterampilan seorang anak dari aspek motorik kasar dan halus, bahasa, dan personal sosial. Tumbuh kembang dipengaruhi faktor biopsikososial: genetik, status gizi, status kesehatan secara umum, pola asuh, stimulasi, dan lingkungan.

    Pertanyaan 2:

    Seberapa besar pengaruh pemberian nutrisi dan gizi seimbang terhadap tumbuh kembang anak, dok? Adakah cara tertentu yang dapat digunakan untuk memantau keterkaitan hal tersebut?

    Jawaban:

    Nutrisi sangat penting perannya dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Nutrisi diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak, otot, tulang yang semuanya berperan dalam tumbuh dan kembang anak. Nutrisi seimbang yang dibutuhkan anak artinya makanan anak harus mengandung karbohidrat dan protein sebagai zat pembangun, lemak dan mineral untuk pembentuk sel dan metabolisme tubuh, vitamin untuk menjaga sel-sel dari kerusakan dan juga berperan dalam metabolisme tubuh. Apabila nutrisi tidak seimbang, pasti berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan. Contohnya, anak yg berlebih karbohidrat dan lemaknya akan meningkatkan risiko obesitas dan tentunya akan menghambat ia untuk bergerak sehingga perkembangannya menjadi terlambat.

    Pertanyaan 3:

    Bagaimana cara mengetahui pertumbuhan dan perkembangan seorang anak itu normal? Apakah diperlukan stimulasi khusus jika tumbuh kembang anak tidak normal, dok?

    Jawaban:

    Pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan oleh orangtua dan dokter anak. Pertumbuhan dipantau melalui penambahan berat/tinggi badan per bulan yang diplot pada grafik pertumbuhan. Sementara perkembangan dipantau melalui skrining dan evaluasi perkembangan oleh dokter anak.

    Pertanyaan 4:

    Bagaimana sebenarnya proses tumbuh kembang anak yang baik? Karena mungkin banyak orang tua yang khawatir ketika anaknya malas makan kemudian tumbuh kembangnya akan terganggu.

    Jawaban:

    Untuk anak usia di bawah 1 tahun ada patokan-patokan kenaikan berat badan rata-rata yang harus dicapai. Dan untuk 3 bulan pertama, kenaikan berat badan haru 800-1.000 gram/bulan. 3 bulan kedua, kenaikan berat badan harus berkisar antara 500-750 gram/bulan. Dan pada 3 bulan ketiga, kenaikannya harus sekitar 300-500 gram/bulan. Terakhir, pada 3 bulan keempat, kenaikannya harus sekitar 100-300 gram/bulan. Untuk usia 1-3 tahun, kenaikan akan berkurang hingga 1-2 kilogram karena anak sudah semakin aktif. Namun patokan kasarnya usia 6 bulan beratnya akan 2x berat lahir, sementara saat usia 1 tahun beratnya akan 3x berat lahir.

    Pertanyaan 5: 

    Pada usia berapa seorang anak dikategorikan sebagai masa golden ages mereka, ya dok?

    Jawaban:

    Masa emas perkembangan anak adalah 1000 hari pertama kehiupan atau 2 tahun pertama. Untuk perkembangan otak ada masa plastisitas otak yg bisa sampai 3-5 tahun.

    Pertanyaan 6:

    Apa saja yang biasanya menonjol pada masa golden ages mereka, ya dok?

    Jawaban:

    Di 2 tahun pertama, selain pertambahan berat dan tinggi badan yang pesat, kepintaran anak juga bertambah dengan cepat. Pada usia 3 bulan, bayi sudah bisa tengkurap, mengangkat kepala, membalas senyum, sampai mengikuti pergerakan benda yang ditunjukan dengan gerakan bola matanya. Sedangkan pada usia 6 bulan, bayi sudah bisa berguling, duduk dengan tegap, dan memegang benda dengan pegangan yang kuat. Pada usia 9 bulan ia sudah bisa merangkak, berdiri sambil pegangan, babbling dan duduk sendiri. Pada usia 12 bulan ia sudah bisa berjalan, memegang benda kecil dengan 2 jari dan mengucapkan banyak kata seperti ‘mama’ atau ‘papa’. Sedangkan pada usia 15 bulan, kosakatanya sudah bertambah hingga 10 kata. Ia juga sudah mengerti peringah sederhana, mengerti fungsi objek sederhana seperti sisir yang digunakan untuk menyisir rambut dan sudah berjalan dengan lancar. Pada usia 18 bulan kosakatanya bertambah hingga 20 kata. Ia sudah dapat menggunakan anggota tubuhnya dengan benar sesuai fungsinya walau belum banyak. Dan pada usia 20 sampai 24 bulan ia akan mulai merangkai kata untuk melakukan percakapan dengan orang di sekitarnya, berbicara untuk memberitahu keadaan dirinya, sudah mengetahui banyak fungsi benda dengan lebih baik.

    Pertanyaan 7:

    Kebutuhan bayi yang seperti apa yang akan membantu tumbuh kembang si kecil?

    Jawaban:

    Kebutuhan bayi di usia ini selain nutrisi tentu stimulasi, baik dari orang tua atau dari pengasuhnya. Stimulasi bisa dengan menggunakan mainan edukatif sesuai usia anak. Dan anak butuh istirahat yang cukup dan tidak terganggu karena saat tidur juga merupakan saat yang penting untuk tumbuh kembang anak. Jadi sebaiknya anak tidak terganggu tidurnya karena mengompol misalnya.

    Nah itu tadi beberapa pertanyaan dengan jawaban hasil Ngobrol Sehat part 2 dengan dokter spesialis anak, dr. Eva Devita, SpA. Temukan pertanyaan beserta penjelasan lainnya di sini.

    Read More
  • Memiliki anak yang gemuk memang menggemaskan. Tapi jangan sampai gemuknya berlanjut hingga si kecil memasuki usia 5 tahun. Dikhawatirkan ia malah akan obesitas pada saat sudah besar! Obesitas pada anak belum lama menjadi sorotan permasalahan gizi pada anak. Hal ini disebabkan karena komplikasi obesitas pada anak yang dapat ditimbulkan lebih kompleks dibandingkan dengan obesitas pada […]

    Hati-hati Obesitas Pada Anak!

    Memiliki anak yang gemuk memang menggemaskan. Tapi jangan sampai gemuknya berlanjut hingga si kecil memasuki usia 5 tahun. Dikhawatirkan ia malah akan obesitas pada saat sudah besar!

    obese-child

    Obesitas pada anak belum lama menjadi sorotan permasalahan gizi pada anak. Hal ini disebabkan karena komplikasi obesitas pada anak yang dapat ditimbulkan lebih kompleks dibandingkan dengan obesitas pada orang dewasa. Hal ini atas pertimbangan anak yang masih akan terus tumbuh dan berkembang, serta karena anak merupakan generasi penerus bangsa. Dan jika mereka obesitas, aktifitas mereka dalam membangun bangsa ini akan terganggu.

    Tapi sebenarnya, apa itu obesitas pada anak?

    Obesitas adalah akumulasi jaringan lemak di bawah kulit yang berlebihan dan menyebar di seluruh tubuh. Obesitas pada umumnya memiliki tanda dan gejala yang khas, yaitu wajah membulat, dagu rangkap (double chin), leher pendek, pipi membulat, dada mengembung dan payudara yang membesar dengan jaringan lemak. Pada anak laki-laki penis akan tampak kecil karena terkubur dalam jaringan lemak supra-pubik sementara pada anak perempuan indikasinya adalah menstruasi dini.

    Hati-hati obesitas pada anak karena akan menyebabkan masalah kesehatan yang timbul ketika mereka dewasa, seperti berikut ini:

    • Penyakit jantung
    • Resistensi terhadap insulin sehingga rentan terhadap penyakit diabetes
    • Penyakit muskuloskeletal (penyakit otot dan tulang) seperti osteoarhtritis
    • Penyakit kanker
    • Disabilitas

    Berikut fakta-fakta yang terkait dengan resiko obesitas pada anak:

    1. Fakta Genetik: Sebuah penelitian mengatakan bahwa jika ibu biologis mengalami obesitas, maka keturunannya memiliki peluang 75% mengalami obesitas.

    2. Fakta Diet: Dalam hal ini ada 2 poin penting yang diperhatikan yaitu:

    • Perubahan trend makanan cepat saji atau junkfood: Salah satu penyebab obesitas pada anak disebabkan oleh terlalu banyak makan makanan junkfood. Peran orang tua yang memiliki lebih sedikit waktu dan energi untuk menyiapkan makanan sehat juga turut menjadi andil dalam pengalihan makanan ke junkfood. Makanan junkfood biasanya tinggi kadar gula dan lemaknya. Makanan ini juga biasa ditawarkan dalam ukuran besar yang menggiurkan.
    • Konsumsi minuman ringan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik: Selain itu, minuman ringan sudah lebih populer ketimbang susu dan air. Misalnya, setiap tahun, orang Meksiko membelanjakan lebih banyak uang untuk minuman ringan, daripada untuk gabungan sepuluh makanan pokok. Menurut buku Overcoming Childhood Obesity, menenggak minuman ringan 600 mililiter saja setiap hari dapat menaikkan berat badan sebanyak 11 kilogram dalam waktu setahun.

    3. Fakta Kurangnya Olahraga: Asupan makanan tidak berbanding lurus dengan kegiatan fisik atau kegiatan olahraga si kecil. Menonton TV sambil makan, bermain games sambil disuapin makan, tentunya akan menyebabkan obesitas pada anak dengan mudah.

    4. Fakta Faktor Psikologi: Beberapa anak memakan lebih banyak karena adanya gangguan emosi seperti stress atau sekedar bosan.

    5. Fakta Faktor Sosio-ekonomi: Makanan yang tersedia dengan harga  tidak terlalu mahal biasanya cepat saji seperti frozen meals, crackers dan cookies. Makanan tersebut biasanya tinggi lemak dan garam yang berperan dalam penambahan berat badan.

    Bertindak sekarang!

    Badan Kesehatan Dunia atau WHO, menghimbau agar keluarga terutama orang tua lebih pintar dan cermat dalam memilih makanan yang sehat bagi anak-anaknya. Hal ini disebabkan karena preferensi atau kecenderungan untuk menyukai makanan tertentu dibentuk sejak awal masa kanak-kanak dan saat tersebut orang tua memiliki peran yang penting. Memberikan anak-anak balita makanan yang tinggi kalori, tinggi lemak, tinggi gula dan tinggi kadar garam/natrium merupakan kontribusi utama obesitas di masa kanak-kanak. Para orang tua, terutama ibu harus paham mengenai nutrisi pada anak-anak dan harus membongkar kebiasaan lama yang mengatakan anak yang sehat adalah anak yang gemuk. Adanya mitos inilah yang juga menyebabkan orang tua cenderung memberikan asupan makanan berlebihan kepada anak-anaknya.

    Sumber: TanyaDok.com

    Daftar Pustaka

    • Budiwarti, Y. Endang, SKM,MPH. Gizi pada Anak Obesitas. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from  http://www.rscm.co.id/index.php?bhs=in&id=GIZ0000001
    • Anonymous. Fakta Penyakit Jantung pada Anak. [internet] 2014. [cited May 29 2014]. Available from http://www.parenting.co.id/article/mode/fakta.penyakit.jantung.pada.anak/001/003/640
    • Gabriella, J. Hartono, dr. Laporan  Gizi di Awal Tahun 2014 : Kurus vs Obesitas. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from http://www.tanyadok.com/anak/laporan-gizi-di-awal-tahun-2014-kurus-vs-obesitas
    • Agtadwimawanti, Nur Resti. Fakta Tentang Obesitas dan Kegemukan. [internet] 2012. [cited May 29 2014]. Available from  http://intisari-online.com/read/fakta-tentang-obesitas-dan-kegemukan
    • Mahadikawati, Ika. Obesitas  pada Anak. [internet] 2012. [cited May 28 2014]. Available from http://mediasehat.com/konten7no107
    • Anonymous, Mayo Clinic Staff. Childhood Obesity. [internet] 2014 [cited May 28 2014]. Available from http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/childhood-obesity/basics/causes/con-20027428
    • Anonymous. Obesitas – Fakta, Penyebab dan Resikonya.  [internet] 2014 [cited May 28 2014]. Available from Obesitas – Fakta, Penyebab dan Resikonya
    • Facts and figures on childhood obesity. [homepage on the Internet]. 2014 [cited 2014 Jun 11]. Available from: WHO, Web site: Facts and figures on childhood obesity
    Read More
  • Bagi Rekan Sehat yang memiliki bayi tentu sudah tidak asing lagi dengan adanya iritasi merah di kulit daerah yang terpasang popok pada tubuh si kecil. Tapi sebenarnya apa itu diaper rash? Apakah berbahaya? Apa penyebabnya? Diaper Rash adalah bercak-bercak merah di kulit daerah yang terpasang popok. Bercak ini timbul karena kulit bayi yang terlalu lama […]

    Apa Itu Diaper Rash?

    Bagi Rekan Sehat yang memiliki bayi tentu sudah tidak asing lagi dengan adanya iritasi merah di kulit daerah yang terpasang popok pada tubuh si kecil. Tapi sebenarnya apa itu diaper rash? Apakah berbahaya? Apa penyebabnya?

    prosehat - diaper rash

    Diaper Rash adalah bercak-bercak merah di kulit daerah yang terpasang popok. Bercak ini timbul karena kulit bayi yang terlalu lama dalam keadaan lembab akibat terlalu lama menggunakan popok yang sudah melebihi kapasitas daya tampung cairannya dan tidak segera diganti. Bercak ini juga dikenal sebagai diaper rash atau dermatitis popok. Penyakit ini hanya terjadi pada penggunaan popok yang terlalu lama. Walaupun begitu ternyata penyakit ini tidak hanya terjadi pada bayi yang menggunakan popok, tapi juga pada semua kelompok usia yang menggunakan popok, seperti pasien dengan inkontinensia atau para lansia.

    Penyebab Diaper Rash

    Penyebab dari dermatitis popok ini adalah karena gesekan antara kulit bayi yang sensitif dengan popok yang basah. Namun hal ini juga dapat menjadi penyebab diaper rash dengan mudah, yaitu:

    • Iritasi dari feses, urin, atau deterjen pakaian.
    • Infeksi oleh jamur.
    • Reaksi alergi terhadap popok, deterjen, sabun, losion atau karet popok.

    Gejala Diaper Rash

    Gejala klinis dari kelainan pada kulit ini sangat mudah dikenali. Selain bercak merah pada daerah genital bayi, lokasinya biasa muncul pada bokong bayi atau daerah genital tetapi jarang mengenai daerah lipatan kulit. Pada kecurigaan reaksi alergi diperlukan pemeriksaan kulit untuk menentukan agen penyebab alergi.

    Pengobatan yang paling efektif dari diaper rash ini adalah dengan menghentikan penggunaan popok untuk sementara dan membiarkan daerah yang biasa tertutup oleh popok terpapar ke udara. Selain itu kulit bagian tersebut harus dikeringkan sebelum pemakaian popok dengan menggunakan bedak sebagai tindakan pencegahan. Jika diaper rash disebabkan oleh jamur, dapat digunakan krim anti jamur. Namun pengobatan yang terpenting dari diaper rash ini adalah dengan menjaga daerah genital bayi Anda tetap kering.

    Untuk mencegah timbulnya diaper rash ini cukup mudah, beberapa di antaranya adalah dengan menggunakan popok yang berdaya serap tinggi, material permukaan bagian dalam popok yang terbuat dari kain lembut serta cepat kering dan dengan memilih popok yang memiliki fitur indikator daya tampung air pipis bayi. Namun yang terpenting adalah dengan mengurangi gesekan kulit dengan permukaan popok, menyerap kelembaban agar kulit di daerah pemakaian popok tetap kering, serta melindungi kulit dari urin dan tinja.

    Tips Melindungi Bayi dari Diaper Rash

    Berikut ini adalah tips bagaimana melindungi si kecil dari dermatitis popok yang mengganggu:

    • Pakailah popok superserap (super absorbent) atau sekali pakai karena popok jenis ini dapat menjaga keringnya kulit dan menjauhkannya dari kelembaban.
    • Daerah popok perlu dikeringkan dengan lembut setelah popok dilepas dan setelahnya biarkan kulit terpaparkan udara dulu.
    • Popok perlu segera diganti setelah bayi buang air kecil atau besar. Kadang daerah popok dianjurkan terbuka untuk jangka waktu lama; namun hal ini kurang praktis bagi kebanyakan orang tua.
    • Celana karet dan plastik harus dihindari.

    Nah, itu tadi hal-hal yang penting untuk diketahui terkait dengan diaper rash. Jadi tidak perlu takut lagi untuk menggunakan popok si kecil ya. Asal Anda tahu penyebab dan cara mencegah diaper rash ini, penggunaan popok akan membantu tumbuh kembang si kecil lho. Bayangkan jika si kecil yang belum dapat menggunakan  toilet kemudian harus terganggu dengan hal seperti mengompol atau bab di celana? Pasti tumbuh kembangnya akan terganggu ya. Untuk itu jangan ragu untuk menggunakan popok ya.

    beli popok di prosehat hemat hingga 40%

    Sumber: TanyaDok.com

    Referensi:

    • eMedicine Medscape [Internet]. Agrawal, R. (MD), Vijay Sammeta, Isabelle Thomas: Diaper Dermatitis; 2013, June 03. [cited: 2013, August 19]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/911985-overview.  
    • Adam, R. “Skin Care of the Diaper Area.” Pediatric Dermatology 25.4 July-Aug. 2008: 427-433.
    • eMedicineHealth [Internet]. Perlstein, D (MD): Diaper Rash. 2012; April 06. [cited: 2013, August 19]. Available from: http://www.emedicinehealth.com/diaper_rash/article_em.htm#diaper_rash_overview
    • MedicineNet [Internet]. Mersch, J (MD): Diaper Rash. 2008; October 04. [cited: 2013, August 19]. Available from: http://www.medicinenet.com/diaper_rash/article.htm.
    • Mayo Clinic [Internet]. Diaper Rash; 2012, May 22 [cited 2013 August 19]. Available from: http://www.mayoclinic.com/health/diaper-rash/DS00069.
    Read More
  • Apa kabar, Rekan Sehat? Pada tanggal 15 Januari kemarin telah diadakan Ngobrol Sehat tentang vaksin anak bersama pakar vaksinasi anak dan dewasa, yaitu dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPd di Twitter @ProSehat. Banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part I kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Kristo dengan pertanyaan terkait dengan vaksinasi anak. […]

    Ngobrol Sehat Part 1 Tentang Vaksin Anak dengan dr. Kristo

    Apa kabar, Rekan Sehat?

    Pada tanggal 15 Januari kemarin telah diadakan Ngobrol Sehat tentang vaksin anak bersama pakar vaksinasi anak dan dewasa, yaitu dr. Kristoforus Hendra Djaya, SpPd di Twitter @ProSehat. Banyak sekali partisipan yang mengikuti acara ngobrol sehat part I kemarin, membanjiri linimasa kami dan memborbardir dr. Kristo dengan pertanyaan terkait dengan vaksinasi anak.  Apakah Rekan Sehat juga berpartisipasi dalam acara tersebut? Jika tidak, berikut rangkuman beserta pertanyaan yang diutarakan oleh kami yang kemudian dijawab oleh dr. Kristoforus langsung.

    12417960_1697714697129535_44388730617041912_n

    Rangkuman Tanya Jawab Ngobrol Sehat bersama dr. Kristoforus Hendra Djaya:

    Pertanyaan 1:

    Dok, sebelum masuk ke tema kita hari ini, boleh kan dokter kenalin dulu apakah vaksinasi itu?

    Jawaban:

    Yup! Selamat malam semua! Kalau kita bicara vaksinasi, berarti kita bicara kekebalan. @Vaksinasi adalah proses menimbulkan kekebalan buatan dengan memaparkan tubuh kita pada kuman/virus yang sudah tak dapat menyerang tubuh kita lagi (sudah mati atau dilemahkan). Akibatnya tubuh kita akan membangun pasukan kekebalan.

    Pertanyaan 2:

    Jadi, vaksinasi itu perlu dilakukan sejak anak-anak ya dok, kenapa ya dok?

    Jawaban:

    Karena usia anak2 adalah usia yang paling rentan penyakit, pertahanan tubuh belum matang, dan belum bisa melindungi dirinya sendiri. Sedangkan kuman/virus cenderung akan mencari mereka yang berdaya tahan lemah, yang paling mudah diserang. Kita tidak selalu bisa memaksa anak-anak cuci tangan, pakai masker, atau makan makanan yang bersih. Tapi kita selalu bisa memberikan @vaksinasi pada mereka.

    Pertanyaan 3:

    Untuk jenis vaksinnya sendiri, ada berapa banyak vaksin yang harus dan penting diberikan kepada anak dok?

    Jawaban:

    Tidak ada lagi @vaksinasi yang harus atau yang penting untuk diberikan. Semua vaksin penting untuk diberikan, tergantung risiko apa saja yang kita hadapi. Ada 18 penyakit pada anak-anak yang sudah bisa diberikan vaksinasinya dan 17 diantaranya telah direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia.

    Pertanyaan 4:

    Wah banyak sekali ya dok, untuk pemberiannya harus diselang-seling atau bisa sekaligus saat anak lahir dok?

    Jawaban:

    Pemberian @vaksinasi sebaiknya mengikuti jadwal yang direkomendasikan untuk mendapatkan proteksi maksimal. Ada yang bisa diberikan sekaligus, ada yang harus bertahap. Yang jelas, dalam 1x kunjungan ke dokter bisa diberikan beberapa vaksinasi sekaligus.

    Pertanyaan 5:

    Mohon share sekalian dok, jadwal vaksin anak yang terbaru dan direkomendasikan dokter.

    Jawaban:

    Karena banyaknya jadwal @vaksinasi anak yang direkomendasikan oleh IDAI, saya berikan linknya saja agar bisa didownload dan dipelajari ya: klinikvaksinasi.com/jadwal-vaksinasi

    Pertanyaan 6:

    Nah dok, kenapa ya vaksin itu harus dilakukan sesuai jadwalnya?

    Jawaban:

    Yaa, setiap @vaksinasi itu sebelum diluncurkan kan sudah dilakukan uji coba ya. Bagaimana cara pemberiannya agar mencapai 1) proteksi maksimal 2) jangka proteksi panjang dan 3) efek samping minimal. Nah dari penelitian itulah dibuat rekomendasi. Karena itu jadwal itu sebaiknya diikuti semaksimal mungkin agar hasil perlindungannya maksimal.

    Pertanyaan 7:

    Bila terlewat dari jadwalnya sebaiknya apa yang dilakukan? Apa harus mengulang?

    Jawaban:

    Tidak, tidak perlu pengulangan dari awal. @Vaksinasi itu tidak hangus, hanya kekebalannya menurun perlahan-lahan. Makanya sebelum turun harusnya diberikan booster/suntikan berikutnya untuk melonjakkan kadar kekebalan kita. Kalau terlambat ya segera disusulkan saja sebelum kadar antibody kita turun. Makin cepat, makin vaik.

    Pertanyaan 8:

    Apakah mereka yang sudah di vaksin ada kemungkinan terkena penyakit tersebut?

    Jawaban:

    Ada. Kekebalan dari @vaksinasi tidak 100%. Ibarat kita perang pakai baju besi, kalau ditembak mungkin masih selamat. Kalau dibom nuklir tetap tidak selamat. Kira-kira begitulah analoginya. Kekebalan vaksin ibarat benteng yang kekuatannya hingga 90-an persen. Bila kuman/virusnya sangat banyak, bisa jadi pertahanan kita juga kalah dan akhirnya terserang juga. Tapi orang yang sudah divaksinasi biasanya lebih kebal dan kalau sakit pun lebih ringan.

    Pertanyaan 9:

    Apakah vaksin perlu juga dilakukan saat dewasa? Vaksin apa saja itu dok?

    Jawaban:

    Tentu! Analoginya seperti musim hujan. Anak-anak perlu bawa payung. Orang dewasa juga perlu payung kan? Tentu semua penyakit yang bisa menyerang anak-anak, tentu juga bisa menyerang dewasa, walaupun gejalanya lebih ringan. Tapi orang dewasa juga bisa jadi vektor penularannya. Makanya baik anak maupun dewasa semuanya perlu @vaksinasi!

    Nah, itu tadi acara Ngobrol Sehat part I kemarin. Jangan lupa untuk mengikuti ngobrol sehat part ke-2 pada tanggal 22 Januari ini dengan tema Tumbuh Kembang Anak.

    Psst… Ada hadiah menarik berupa voucher senilai 1 juta untuk setiap pertanyaan terbaik yang akan dipilih di setiap part acara Ngobrol Sehat. Follow sosial media kami @prosehat dan fb page ProSehat untuk update berita Ngobrol Sehat terbaru. Stay tuned!

    Read More