Telp / WhatsApp : 0811-1816-800

Archive for Category: vaksinasi

Showing 11–20 of 164 results

  • Sejak tahun 2016 minat calon mahasiswa Indonesia yang melanjutkan kuliah di Eropa meningkat. Menurut data tahun 2015, sebanyak 5.000 siswa mengambil program sarjana (S1) dan magister (S2) di Eropa dan meningkat menjadi 9.000 siswa pada tahun 2016. Angka ini dipercaya akan terus meningkat setiap tahunnya. Salah satu negara yang menjadi tujuan para mahasiswa Indonesia di […]

    11 Rekomendasi Vaksin untuk Kuliah di Eropa

    Sejak tahun 2016 minat calon mahasiswa Indonesia yang melanjutkan kuliah di Eropa meningkat. Menurut data tahun 2015, sebanyak 5.000 siswa mengambil program sarjana (S1) dan magister (S2) di Eropa dan meningkat menjadi 9.000 siswa pada tahun 2016. Angka ini dipercaya akan terus meningkat setiap tahunnya.

    11 Rekomendasi Vaksin untuk Kuliah di Eropa

    11 Rekomendasi Vaksin untuk Kuliah di Eropa

    Salah satu negara yang menjadi tujuan para mahasiswa Indonesia di Eropa adalah Jerman. Pada tahun 2021, jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Jerman sebanyak 2.395 siswa, 50% diantaranya berusia dibawah 30 tahun, dengan rata-rata usia yaitu 28 tahun.

    Salah satu hal yang perlu dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan dan menetap di Eropa, ada baiknya calon mahasiswa mengetahui penyakit infeksi apa saja yang berada di daerah tinggalnya nanti saat di Eropa dan vaksin apa saja yang perlu dipersiapkan untuk mencegah penularan penyakit.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Jenis Vaksinasi Rekomendasi Sebelum Menetap di Eropa

    Ada beberapa jenis vaksinasi yang direkomendasikan secara umum oleh negara-negara di Eropa. Hal ini telah menimbang pola penyakit di sana, pola penyakit di negara asal calon mahasiswa, dan ancaman penularan penyakit ataupun wabah yang mungkin terjadi sebab beragamnya pengunjung dari berbagai negara di seluruh dunia.

    Berikut adalah jenis vaksinasi yang diperlukan sebelum Sahabat Sehat berangkat ke Eropa, yaitu:

    1. Vaksin Hepatitis

    Vaksinasi Hepatitis A dan B merupakan vaksinasi wajib yang disarankan bagi Sahabat Sehat yang hendak mengunjungi ataupun menetap di Eropa. Hepatitis A ditularkan melalui makanan dan Hepatitis B ditularkan melalui cairan tubuh dan darah.

    Baca Juga: Persiapkan Diri dengan Booster Vaksin Sebelum Kuliah di UK

    2. Vaksin Tifoid

    Demam tifoid sebenarnya merupakan penyakit yang cukup jarang terjadi di sejumlah negara di Eropa. Namun, pada tahun 2017 lalu terjadi outbreak demam tifoid di Italia. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella typhi ini bisa dicegah dengan vaksinasi tifoid. Untuk itu, sebelum berkunjung ke Eropa, ada baiknya melakukan vaksinasi tifoid.

    3. Vaksin Rabies

    Penyakit rabies terbanyak di Eropa disebabkan karena gigitan kelelawar dan anjing. Maka, vaksin ini sangat penting jika Sahabat Sehat akan banyak melakukan kegiatan atau berinteraksi dengan hewan.

    4. Vaksin MMR (Mumps, Measles dan Rubella)

    Pada tahun 2016 hingga 2017, sebanyak 42 negara dari 53 negara di Eropa terjadi endemi penyakit measles (campak), dan 37 negara terjangkit Rubella (campak Jerman). Namun, endemik ini berakhir pada tahun 2017. Untuk mencegah tertularnya penyakit tersebut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan para pengunjung atau bagi yang akan menetap di Eropa untuk melakukan vaksinasi MMR.

    5. Vaksin DPT atau Tdap (Tetanus, Difteria dan Pertussis). 

    Penelitian pada tahun 2010-2019, dilaporkan ada 451 kasus difteri dengan 52 kasus diantaranya terjadi pada tahun 2019 dengan kasus terbanyak sebanyak 15 kasus di Jerman. Penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan yang berbahaya dan berdampak fatal.

    Sedangkan kasus pertusis di Eropa semenjak tahun 2010 sampai 2016 mengalami peningkatan, yaitu dari 16.000 kasus menjadi 48.000 kasus. Oleh karena itu, bagi Sahabat Sehat yang hendak menetap di Eropa, diperlukan vaksinasi DPT terlebih dahulu.

    Baca Juga: Catat, Anjuran Vaksinasi Persiapaan Kuliah di Luar Negeri

    6. Vaksin Influenza

    Flu merupakan penyakit pernapasan yang dapat menimbulkan komplikasi lebih parah dari yang banyak dibayangkan masyarakat. WHO memperkirakan terjadi 290 ribu hingga 650 ribu kematian setiap tahunnya akibat gangguan pernapasan yang disebabkan dari infeksi virus influenza. Oleh karena itu, WHO menilai flu tetap menjadi ancaman global sehingga WHO menyarankan untuk melakukan vaksinasi influenza terutama bagi anak-anak.

    7. Vaksin Varicella atau cacar air

    Cacar air pernah mewabah di Eropa pada tahun 2019 ketika kasus di Ukraina meningkat. Vaksinasi Varicella atau cacar air merupakan vaksinasi wajib yang direkomendasikan oleh CDC sebelum para pengunjung melakukan perjalanan internasional termasuk Eropa.

    8. Vaksin Shingles

    Vaksinasi Shingles atau cacar ular merupakan vaksinasi wajib yang direkomendasikan oleh CDC sebelum para pengunjung melakukan perjalanan internasional termasuk Eropa.

    9. Vaksin Pneumonia

    Vaksinasi Pneumonia merupakan vaksinasi wajib yang direkomendasikan oleh CDC sebelum para pengunjung melakukan perjalanan internasional termasuk ke Eropa. Penyakit pneumonia ditularkan melalui udara sehingga infeksi antar manusia menjadi sangat mudah. Vaksinasi dapat mencegah penularan dan komplikasinya.

    Baca Juga: Vaksin, Menjadi Syarat Mutlak Sebelum Kuliah di Luar Negeri

    10. Vaksin Meningitis

    Pada tahun 2018 NRC (National Reference Centre) mencatat kematian akibat meningitis di Eropa mencapai 9,7%. Oleh karena itu, vaksinasi meningitis merupakan vaksin wajib bagi yang mau menetap di Eropa.

    11. Vaksin Polio

    Vaksinasi Polio merupakan vaksinasi wajib yang direkomendasikan oleh CDC sebelum para pengunjung melakukan perjalanan internasional termasuk Eropa walaupun kasus ini mungkin tidak pernah lagi ditemukan di Eropa. Namun, bagi pengunjung dari negara yang masih rentan penyakit polio seperti Indonesia, maka vaksin ini wajib dilakukan untuk menurunkan risiko adanya penularan di negara tujuan.

    Sahabat Sehat, itulah rekomendasi vaksin untuk kuliah di Eropa. Sudahkah Sahabat Sehat melengkapi vaksinasinya? Jika belum, ayo luangkan paling tidak sekitar 4-6 minggu sebelum keberangkatan untuk vaksinasi karena efek perlindungannya baru sempurna setelah kurang lebih 2 minggu.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Tifoid Bagi yang Kuliah di Asia Tenggara

    Sahabat Sehat bisa gunakan layanan Prosehat yang menyediakan layanan vaksinasi dewasa dan anak. Layanan vaksinasi bisa dilakukan di klinik Prosehat maupun di rumah. Vaksinasi bersama Prosehat tentu saja mempermudah Sahabat Sehat yang mungkin waktunya terbatas. Selain itu, Prosehat juga memberikan harga yang terbaik bagi Sahabat Sehat.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Marbun, J. 9,000 Indonesians study in Europe.
    2. Educationfair. The Indonesian Study Abroad Market.
    3. Passporthealthusa.com. 2022. Travel Vaccines and Advice for Western Europe.
    4. Outbreak News Today. 2017. Europe: Typhoid outbreak reported, linked to the European Rainbow gathering in Italy – Outbreak News Today.
    5. WHO. Measles no longer endemic in 79% of the WHO European Region.
    6. Muscat, M. and Gerbil, B. Diphtheria in the WHO European Region, 2010 to 2019.
    7. Sanofi. Pertussis Fact in Europe.
    8. Health.belgium.be. Meningococcal vaccination.
    Read More
  • Meningitis merupakan sebuah penyakit yang berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang. Penyakit ini dapat dijumpai di seluruh dunia, namun kasus terbanyak dapat dijumpai pada benua Afrika. Salah satu negara di Afrika yang memerlukan vaksin meningitis saat ini adalah Sudan. Mari kita bahas mengenai meningitis dan vaksinnya dalam artikel ini. […]

    Selain Arab Saudi, Kuliah di Sudan Perlu Vaksin Meningitis

    Meningitis merupakan sebuah penyakit yang berbahaya dengan tingkat kematian yang tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang.

    Selain Arab Saudi, Kuliah di Sudan Perlu Vaksin Meningitis

    Selain Arab Saudi, Kuliah di Sudan Perlu Vaksin Meningitis

    Penyakit ini dapat dijumpai di seluruh dunia, namun kasus terbanyak dapat dijumpai pada benua Afrika. Salah satu negara di Afrika yang memerlukan vaksin meningitis saat ini adalah Sudan. Mari kita bahas mengenai meningitis dan vaksinnya dalam artikel ini.

    Macam-macam Penyebab Meningitis

    Istilah meningitis sendiri diartikan sebagai radang pada selaput pembungkus otak.2 Proses radang ini memiliki beberapa penyebab, diantaranya adalah infeksi. Infeksi tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal yaitu bakteri, virus, parasit, dan jamur.

    Dari semua penyebab yang disebutkan, bakteri adalah penyebab tersering terjadinya meningitis. Bakteri dengan spesies Neisseria meningitidis adalah salah satunya, sehingga telah dibuatkan vaksin untuk mencegah infeksi bakteri tersebut.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Gejala Awal Meningitis Tidak Khas

    Cara penularan bakteri meningitis adalah melalui droplet yang diproduksi saat orang terinfeksi batuk, bersin, dan berbicara jarak dekat. Bila droplet tersebut masuk melalui saluran pernapasan, maka Sahabat Sehat dapat terinfeksi.

    Saat seseorang terinfeksi bakteri tersebut, beberapa tanda dan gejala dapat timbul meskipun tidak khas. Beberapa tanda dan gejalanya adalah batuk, pilek, demam, nyeri tenggorokan, nyeri otot dan mual muntah.

    Namun bakteri tersebut memiliki kemungkinan untuk menyebabkan meningitis, sehingga tanda dan gejala yang lebih berat dapat dialami berupa kaku pada leher, demam tinggi, dingin pada kaki tangan, nyeri kepala hebat, menghindari cahaya, kejang, hingga penurunan kesadaran.

    Untuk menegakkan diagnosis meningitis akibat bakteri, maka diperlukan analisa cairan serebrospinal yang diambil dari ruas tulang belakang menggunakan jarum. Cairan tersebut kemudian dianalisis untuk menentukan apakah penyebabnya bakteri atau hal lain.

    Baca Juga: Musim Flu di Australia, Perlukah Mahasiswa Vaksin Influenza?

    Mencegah Meningitis dengan Vaksinasi

    Semua hal tersebut dapat dicegah apabila Sahabat Sehat sudah mendapatkan vaksinasi terhadap meningococcus. Saat ini di Indonesia sudah terdapat vaksin meningitis. Vaksin yang tersedia di Indonesia terdapat 2 jenis yaitu:

    1. Vaksin meningokok polisakarida (MPSV4)

    Vaksin jenis ini dapat digunakan pada semua kelompok umur. Durasi proteksi pada orang dewasa selama 3-5 tahun. Vaksin jenis ini merupakan pilihan untuk Sahabat Sehat yang berusia diatas 55 tahun.

    1. Vaksin meningokok konjugat (MCV4/MenACWY)

    Vaksin ini memberikan proteksi yang adekuat dan menurunkan risiko karier. Namun hingga saat ini, BPOM menyetujui penggunaan vaksin masih terbatas untuk Sahabat Sehat yang berusia 11-55 tahun.

    Kedua jenis vaksin ini sudah cukup untuk melindungi Sahabat Sehat dari infeksi bakteri meningococcus. Selain itu vaksin ini sudah mendapatkan sertifikat halal, jadi Sahabat Sehat tidak perlu khawatir lagi.

    Namun bagi Sahabat Sehat yang mengalami kondisi tertentu seperti alergi terhadap vaksin ini atau sedang hamil atau menyusui harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mendapatkan vaksin tersebut.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Tifoid Bagi yang Kuliah di Asia Tenggara

    Nah Sahabat Sehat, itulah alasan pentingnya vaksinasi meningitis sebelum kuliah di Sudan. Bila Sahabat Sehat akan kuliah maupun berkunjung ke Sudan atau negara di Afrika lainnya, Sahabat Sehat perlu mendapatkan vaksin meningitis mengingat daerah tersebut memiliki kasus meningitis lebih banyak dari negara lainnya.

    Jadwalkan vaksinasi meningitis Sahabat Sehat bersama Prosehat. Layanan ini dapat dilakukan di rumah untuk kenyamanan dan kemudahan Anda.

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya dengan nomor 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: dr. Jonathan Christopher
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L

     

    Referensi

    1. Meningitis. Who.int. 2022.
    2. Hersi K, Gonzalez F, Kondamudi N. Meningitis.
    3. Young N, Thomas M. Meningitis in adults: diagnosis and management. Internal Medicine Journal. 2018;48(11):1294-1307.
    4. Rumah Sakit Universitas Indonesia.
    5. Menkes Luncurkan Vaksin Meningitis Halal Secara Nasional.
    6. Meningococcal Vaccination: What Everyone Should Know.
    Read More
  • Vaksinasi tetanus untuk anak penting untuk diberikan, Jangan anggap sepele saat SiKecil terluka. kapan waktu yang tepat vaksinasi tetanus? Jangan anggap sepele saat Si Kecil terluka. Pasalnya, anak-anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna layaknya orang dewasa. Inilah sebabnya anak yang terluka sangat rentan terhadap serangan infeksi, terutama infeksi tetanus. Sahabat Sehat, apa itu […]

    Kapan Waktu yang Tepat Vaksinasi Tetanus Untuk Anak?

    Vaksinasi tetanus untuk anak penting untuk diberikan, Jangan anggap sepele saat SiKecil terluka. kapan waktu yang tepat vaksinasi tetanus?

    Kapan Waktu yang Tepat Vaksinasi Tetanus Untuk Anak

    Kapan Waktu yang Tepat Vaksinasi Tetanus Untuk Anak?

    Jangan anggap sepele saat Si Kecil terluka. Pasalnya, anak-anak belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna layaknya orang dewasa. Inilah sebabnya anak yang terluka sangat rentan terhadap serangan infeksi, terutama infeksi tetanus. Sahabat Sehat, apa itu tetanus ? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Tetanus ?

    Tetanus adalah penyakit infeksi bakteri Clostridium tetani yang masuk kedalam tubuh manusia melalui luka terbuka. Racun akibat bakteri ini dapat mempengaruhi otot dan saraf tubuh, seperti kejang otot, spasmus, dan kekakuan otot-otot yang menyebabkan tulang belakang tampak melengkung. Bahkan pada kasus yang berat, tetanus dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini tidak menular dan dapat dicegah dengan pemberian vaksin. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Bagaimana Cara Penularan Tetanus?

    Tetanus berkaitan dengan luka yang diakibatkan tertusuk paku berkarat. Namun perlu diketahui bahwa bakteri penyebab tetanus tidak hanya terdapat pada logam berkarat, namun juga dapat ditemui di tanah dan kotoran.
    Saat bakteri Clostridium tetani bersentuhan dengan luka atau lubang di kulit, bakteri tersebut akan mudah berkembang hingga dapat menyebabkan infeksi serius pada tubuh. Oleh sebab itu, semua anak dianjurkan menerima vaksinasi tetanus sebagai langkah pencegahan.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Tetanus Setelah Luka Akibat Benda Tajam

    Kapan Waktu yang Tepat Vaksinasi Tetanus Untuk Si Kecil?

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), anak-anak direkomendasikan untuk mendapatkan 5 suntikan DTaP (atau disebut juga vaksin DPT). Suntikan DTaP adalah vaksin kombinasi yang mampu melindungi anak dari 3 penyakit, yakni difteri, tetanus, dan pertussis. Berikut ketentuannya pemberian vaksin untuk mencegah infeksi difteri, tetanus dan pertussis (DPT):

    • 3 suntikan pertama di berikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan.
    • Suntikan keempat diberikan pada usia antara 15 dan 18 bulan.
    • Suntikan kelima diberikan pada usia 4 hingga 6 tahun.
    • Suntikan booster Tdap harus diberikan saat anak berusia 11 atau 12 tahun pada jadwal pemeriksaan rutin. Booster Tdap juga dapat melindungi anak dari infeksi tetanus, difteri, dan pertusis. 
    • Remaja dan dan wanita hamil juga perlu mendapatkan booster Tdap antara pekan ke 27 dan 36 setiap kehamilan untuk meningkatkan perlindungan bagi bayi mereka saat lahir. 

    Baca Juga: Fakta Seputar Tetanus Pada Anak

    Anak yang Berisiko Terinfeksi Tetanus

    Seorang anak lebih berisiko terkena tetanus apabila belum mendapatkan vaksin tetanus dan mengalami cedera kulit di bagian tubuh dimana bakteri penyebab tetanus mungkin akan lebih aktif. Bakteri tetanus akan masuk ke tubuh melalui luka di kulit, termasuk:

    • Tusukan, luka, atau luka pada kulit
    • Luka bakar
    • Gigitan binatang

    Gejala Tetanus pada Anak

    Saat anak terpapar bakteri tetanus, mungkin membutuhkan 3 hingga 21 hari masa inkubasi untuk gejalanya muncul. Pada bayi, gejala mungkin akan muncul dalam rentan waktu 3 hingga 14 hari. 

    Gejala tetanus pada anak yang paling umum meliputi:

    • Kekakuan rahang (lockjaw)
    • Kekakuan otot perut dan punggung
    • Kontraksi (pengencangan) otot-otot wajah
    • Kejang
    • Detak jantung cepat
    • Demam
    • Berkeringat
    • Kejang otot yang menyakitkan di sekitar area luka. Saat kejang ini mulai mempengaruhi laring atau dada, anak mungkin akan kesulitan bernapas atau bahkan tidak dapat bernapas.
    • Kesulitan menelan

    Tetanus memiliki gejala yang mirip dengan gangguan kesehatan lainnya. Jika, tidak segera diobati tetanus mungkin akan mengancam jiwa. Untuk itu, pastikan untuk segera membawa anak Anda ke dokter jika mengalami gejala-gejala diatas. 

    Baca Juga: Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Pengobatan Tetanus pada Anak

    Perawatan terhadap penyakit ini akan disesuaikan dengan gejala, usia, dan kondisi kesehatan anak secara umum. Selain itu, pengobatan yang diberikan juga tergantung pada seberapa cepat paparan terjadi atau tingkat keparahan infeksi. Pengobatan ini bertujuan untuk mengurangi adanya risiko tetanus setelah cedera atau terluka. Perawatan yang dapat dilakukan meliputi:

    • Membersihkan luka kulit
    • Memberikan serangkaian suntikan antitoksin tetanus
    • Penggunaan obat antibiotic

    Sedangkan pada kasus yang lebih parah, anak Anda mungkin perlu dirawat di rumah sakit. Perawatan yang diberikan rumah sakit mungkin termasuk:

    • Penggunaan selang pernapasan yang dimasukan ke bagian depan tenggorokan (trakeostomi) jika anak memiliki masalah pernapasan.
    • Obat untuk mengontrol kejang

    Ingat, komunikasikan dengan dokter mengenai risiko, manfaat, dan kemungkinan efek samping dari penggunaan obat-obatan tersebut. 

    Baca Juga: Mengapa Ibu Hamil Membutuhkan Vaksin Tetanus?

    Kapan Harus Ke Dokter?

    Apabila Anda tidak yakin apakah si Kecil telah mendapatkan vaksin tetanus atau belum melengkapi rangkaian vaksin tetanus, maka hubungi layanan kesehatan apabila anak Anda mengalami:

    • Gejala yang tidak membaik, atau memburuk
    • Timbul gejala baru

    Baca Juga: Bagaimana Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT atau Sering Disebut KIPI

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention. 2021. Tetanus and the Vaccine (Shot)
    2. Cdc.gov. 2021. Tetanus Vaccination | CDC
    3. Kidshealth.org. 2021. Tetanus (for Parents) – Nemours KidsHealth.
    4. Pccvi.com. 2021. When Should My Child Get a Tetanus Shot?.
    5. Urmc.rochester.edu. 2021. Tetanus in Children – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center.
    Read More
  • Poliomeilitis atau yang dikenal sebagai polio, adalah salah satu jenis penyakit paling menular yang disebabkan virus polio. Mayoritas anak yang terinfeksi polio tidak menunjukan gejala, tetapi beberapa anak lainnya menderita gejala ringan. Ciri-ciri polio yang paling umum ditemukan adalah kerusakan sistem saraf yang menyebabkan kelumpuhan (lumpuh layu), dan pada kasus yang lebih parah dapat menyebabkan […]

    Kenali Ciri-ciri Si Kecil Menderita Polio, Apa Saja?

    Poliomeilitis atau yang dikenal sebagai polio, adalah salah satu jenis penyakit paling menular yang disebabkan virus polio. Mayoritas anak yang terinfeksi polio tidak menunjukan gejala, tetapi beberapa anak lainnya menderita gejala ringan. Ciri-ciri polio yang paling umum ditemukan adalah kerusakan sistem saraf yang menyebabkan kelumpuhan (lumpuh layu), dan pada kasus yang lebih parah dapat menyebabkan kesulitan bernapas hingga kematian. Sayangnya, masih banyak tanda lain yang belum diketahui orang tua. 

    Kenali Ciri-ciri Si Kecil Menderita Polio, Apa Saja

    Kenali Ciri-ciri Si Kecil Menderita Polio, Apa Saja?

    Penularan virus polio paling sering terjadi melalui kontak antara feses dan oral. Anak-anak akan mudah terinfeksi saat mereka tidak mencuci tangan dengan benar atau karena mengkonsumsi makan dan minuman yang telah terkontaminasi virus penyebab polio. Lendiri pernapasan juga mampu menyebarkan virus polio, yakni saat anak-anak menghirup udara yang tercemar oleh percikan liur atau bersin penderita polio.  Virus ini dapat dideteksi di tinja anak selama beberapa minggu. 

    Anak-anak cenderung berisiko tinggi terinfeksi polio saat mereka berada atau tinggal di daerah yang tinggi kasus polio. Biasanya virus ini banyak ditemukan di negara berkembang dengan angka kemiskinan tinggi dan akses yang kurang terhadap vaksin polio, seperti beberapa negara di Afrika dan Asia. 

    Apa Saja Gejala Polio Pada Anak?

    Virus polio biasanya memiliki masa inkubasi sekitar 3 – 6 hari, dan kemungkinan terjadi kelumpuhan dalam waktu 7 – 21 hari. Sekitar 90% anak yang menderita polio tidak menunjukan gejala sama sekali atau yang disebut sebagai infeksi yang tidak terlihat. Namun pada beberapa anak, infeksi virus polio dapat menunjukan beberapa gejala tergantung tingkat keparahan. Gejala infeksi polio ini terbagi menjadi tiga kategori, yakni:

    Poliomyelitis Abortif
    Yaitu infeksi polio ringan dan tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejala tidak berlangsung lama, yang ditandai   dengan:

    • Demam hingga 39,4 derajat Celcius
    • Nafsu makan berkurang
    • Mual atau muntah
    • Sakit tenggorokan
    • Tidak enak badan
    • Sembelit
    • Nyeri perut

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Poliomyelitis Nonparalytic

    Kondisi ini dikategorikan sebagai penyakit ringan dan tidak menyebabkan kelumpuhan. Gejala umumnya tidak berlangsung lama. Namun, gejalanya mungkin akan lebih buruk dari poliomielitis abortif. Kemudian setelah gejala mulai menghilang, anak mungkin akan mengalami:

    • Nyeri otot di leher, batang tubuh, lengan, dan kaki
    • Kekakuan di leher dan di sepanjang tulang belakang
    • Peradangan selaput otak

    Baca Juga: Efek Samping Vaksin Polio yang Perlu Kamu Ketahui

    Poliomyelitis Paralytic

    Merupakan suatu jenis infeksi polio yang memiliki gejala seperti polio non paralitik dan abortif. Namun infeksi polio jenis ini juga dapat menimbulkan keluhan lain, sebagai berikut :

    • Kelemahan otot di seluruh tubuh
    • Sembelit parah
    • Kelumpuhan di kandung kemih
    • Pengecilan otot
    • Pernapasan melemah
    • Batuk lemah
    • Suara serak
    • Kesulitan menelan
    • Kelumpuhan otot yang mungkin permanen
    • Ngiler
    • Mudah kesal dan marah

    Baca Juga: Mengenal Penyakit Polio dan Vaksin untuk Mencegahnya

    Sindrom Pasca Polio

    Yakni sekumpulan gejala yang dapat melumpuhkan dan mempengaruhi orang selama bertahun-tahun setelah terinfeksi polio. Gejala yang muncul, yakni:

    • Kelelahan setelah aktivitas ringan
    • Atrofi menyusut dari jaringan otot
    • Nyeri sendi dan otot secara progresif
    • Sleep apnea atau gangguan pernapasan lainnya saat tidur
    • Perubahan suasana hati atau depresi
    • Kesulitan menelan
    • Sulit bernafas
    • Sulit berkonsentrasi
    • Penurunan toleransi terhadap suhu rendah dan cuaca dingin

    Penyakit polio aktif umumnya berlangsung selama dua minggu, namun kerusakan saraf akibat infeksi virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen atau berlangsung seumur hidup. Meski demikian sebagian besar anak yang mengalami kelumpuhan akan mendapatkan kembali sebagian kekuatannya seiring waktu, bahkan pada beberapa anak dapat kembali normal. 

    Baca Juga: Pilih yang Mana? Ini Beda Imunisasi Polio Tetes dan Suntik

    Pengobatan Polio Pada Anak

    Perawatan yang dilakukan bertujuan untuk membantu kenyamanan dan proses pemulihan anak dari virus polio, antara lain:

    • Obat pereda nyeri 
    • Istirahat yang cukup hingga demam turun
    • Pola makan sehat 
    • Aktivitas fisik seminimal mungkin
    • Penggunaan bantalan pemanas untuk nyeri otot

    Pada kasus poliomyelitis paralytic, penderitanya dapat mengalami kelumpuhan permanen pada otot tertentu termasuk otot pernapasan dan otot kaki.

    Baca JugaKetahui Pentingnya Imunisasi Polio Suntik Untuk Bayi

    Pencegahan Poliomyelitis Pada Anak

    Pemberian vaksin adalah cara yang paling efektif dalam mencegah infeksi polio. Vaksinasi polio yang diberikan berkali kali dapat melindung anak terinfeksi penyakit polio seumur hidup. Penularan virus polio dapat dicegah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mendapatkan vaksinasi polio pada anak.

    Selain itu, pencegahan penularan ke orang lain melalui kontak langsung atau cipratan air liur. Untuk mencegahnya, gunakan masker bagi penderita yang tengah sakit maupun bagi orang yang sehat. Menjaga kebersihan lingkungan dan pembuangan air besar untuk mencegah kontak dengan feses penderita polio.

    Baca Juga: Tujuan Imunisasi Polio yang Perlu Diketahui

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai ciri polio pada anak. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh : Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh : dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan. Poliomyelitis Penyakit Virus Polio.
    2. University of Rochester Medical Center. Poliomyelitis (Polio) in Children.
    3. Children’s Hospital of Philadelphia. Poliomyelitis (Polio) in Children.
    4. Childrens. Pediatric Polio.
    Read More
  • Sejumlah penyakit menular dapat menyerang siapa saja dan dimana saja, termasuk di area perkantoran. Penularannya yang sangat mudah terjadi membuat Anda harus lebih berhati-hati dan selalu menjaga kebersihan lingkungan kantor. Penyakit menular biasanya disebabkan oleh mikroorganisme kecil tak kasat mata seperti bakteri, jamur, parasit, atau virus. Penyakit menular dapat menyebar dengan du acara, yakni penularan […]

    Waspadai 6 Penyakit Ini Rentan Terjadi di Lingkungan Kantor

    Sejumlah penyakit menular dapat menyerang siapa saja dan dimana saja, termasuk di area perkantoran. Penularannya yang sangat mudah terjadi membuat Anda harus lebih berhati-hati dan selalu menjaga kebersihan lingkungan kantor.

    Waspadai 6 Penyakit Ini Rentan Terjadi di Lingkungan Kantor

    Waspadai 6 Penyakit Ini Rentan Terjadi di Lingkungan Kantor

    Penyakit menular biasanya disebabkan oleh mikroorganisme kecil tak kasat mata seperti bakteri, jamur, parasit, atau virus. Penyakit menular dapat menyebar dengan du acara, yakni penularan secara langsung maupun tidak langsung. 

    Penularan secara langsung akan terjadi melalui kontak fisik dengan penderita, seperti dari cairan tubuh (urine dan darah) atau lewat sentuhan. Sedangkan, penularan tidak langsung akan terjadi saat Anda tidak sengaja menyentuh benda yang rentan terkontaminasi seperti gagang pintu atau keran air, kemudian menyentuh area wajah. Selain itu, penyakit menular juga bisa menyebar melalui gigitan hewan atau kontak fisik dengan cairan tubuh hewan, serta melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi mikroorganisme penyebab penyakit menular. 

    Penyakit Menular yang Rentan Terjadi di Kantor

    Penyakit menular akan lebih berisiko dialami oleh pekerja. Pasalnya, pekerja kantoran akan cenderung memiliki daya tahan tubuh yang naik turun. Ini karena keseharian mereka memiliki banyak pikiran akibat pekerjaan yang menumpuk, sehingga daya tahan tubuh melemah dan rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit menular. Berikut beberapa jenis penyakit menular yang rentan terjadi di kantor, meliputi:

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    1. Covid-19
    Penyakit menular yang sedang mewabah di seluruh dunia ini disebabkan oleh virus corona. Covid-19 umumnya memiliki gejala yang hampir sama dengan gejala flu biasa, seperti, batuk kering, demam, pilek dan sesak nafas. Gejala tersebut biasanya akan mulai muncul 2 – 14 hari setelah terinfeksi virus penyebabnya. Penyakit menular ini akan menyebabkan efek ringan, berat, hingga kematian pada penderitanya.
    Upaya pencegahan yang cukup efektif agar terhindar dari Covid-19 yakni dengan melakukan vaksinasi. Saat ini  telah tersedia beberapa jenis vaksin Covid-19. Tidaknya hanya dapat melindungi Anda dari paparan virus corona, vaksin tersebut juga mampu meringankan gejala yang mungkin muncul saat terpapar Covid-19.

    2. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
    ISPA akan menyerang sistem pernapasan seperti hidung, saluran napas, tenggorokan, dan paru-paru yang ditandai dengan gejala berikut:

    • Demam
    • Tenggorokan sakit
    • Nyeri saat menelan
    • Batuk kering atau berdahak
    • Pilek

    Tidak hanya disebabkan oleh virus, penyakit menular ISPA juga dapat akibatkan oleh bakteri. ISPA dapat dicegah dengan beberapa cara, seperti menjaga kebersihan lingkungan, melakukan vaksin influenza, membiasakan diri selalu cuci tangan, serta mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, jangan lupa untuk memperhatikan etika saat batuk dan bersin, serta gunakan selalu masker untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. 

    Baca Juga: 4 Tips Mencegah Penularan Flu di Kantor

    3. DiareDiare merupakan gangguan kesehatan yang menyerang sistem pencernaan. Penyakit menular ini biasanya ditandai dengan buang air besar lebih dari tiga kali dalam sehari dengan tinja yang berbentuk cair dan disertai rasa mulas berlebihan. Dalam beberapa kasus, diare dapat disertai dengan lendir atau darah. Meski terlihat sepele penyakit ini dapat menyebabkan kematian, khususnya pada balita apabila tidak ditangani dengan baik.
    Diare dapat mudah menular pada lingkungan dengan sanitasi yang buruk, seperti melalui sumber air, tanah, atau makanan dan minuman yang telah terkontaminasi bakteri, virut, ataupun parasit penyebab diare. Diare dapat dicegah dengan menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan selalu mencuci tangan setelah beraktivitas atau menyentuh barang yang rawan terkontaminasi, serta mengonsumsi makanan yang telah matang sempurna.

    4. Tuberculosis
    Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru. Meski demikian, penyakit menular ini juga dapat menyerang bagian tubuh lainnya seperti sendi, tulang, kelenjar getah bening (TB kelenjar), selaput jantung, hingga selaput otak atau meningitis TB). Bakteri penyebab tuberkulosis ini dapat menular melalui udara saat penderitanya bersin atau batuk. Penyakit menular ini mampu dicegah dengan mendapatkan vaksin BCG. 

    5. Hepatitis
    Hepatitis merupakan penyakit yang menyebabkan peradangan pada hati atau liver. Penyakit yang umumnya disebabkan oleh virus ini mudah menular melalui sumber air yang atau makanan yang telah terkontaminasi. Beberapa jenis hepatitis lain juga dapat menyebar melalui cairan tubuh, seperti darah, air liur, sperma, dan cairan vagina.
    Terdapat beberapa jenis hepatitis, seperti hepatitis A, B, C, D, dan E. Masing-masing jenis hepatitis tersebut memiliki ciri khasnya sendiri, seperti virus penyebabnya hingga tanda dan gejala yang ditimbulkan. 

    Baca Juga: Apa Keuntungan Perusahaan Memberikan Benefit Vaksinasi Bagi Karyawan Kantor?

    6. Konjungtivitis
    Konjungtivitis atau mata merah adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus. Kondisi ini dapat terjadi karena peradangan pada konjungtiva, yakni jaringan yang melapisi bagian dalam dari kelopak dan bagian putih mata.
    Penyakit menular ini biasanya akan ditandai dengan munculnya gejala mata berair, terasa nyeri saat mengedipkan mata, mata terasa gatal, hingga pembengkakan pada kelopak mata. Pada kondisi yang lebih parah, peradangan konjungtiva ini dapat menyebabkan terbentuknya nanah. 

    Cara Mencegah Penyakit Menular di Kantor

    Untuk mencegah agar Sahabat Sehat tidak mudah terpapar berbagai virus atau bakteri, terapkan berbagai hal berikut di rumah:

    • Biasakan diri untuk menjalankan pola hidup bersih dan sehat dengan selalu mencuci tangan setelah beraktivitas atau menyentuh barang di tempat umum.
    • Jaga daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi lengkap serta suplemen multivitamin.
    • Pastikan telah mendapatkan vaksin, seperti vaksin Covid-19, vaksin Hepatitis, vaksin Influenza, dan lainnya untuk mencegah tertular berbagai penyakit.
    • Bila memungkinkan, usahakan untuk selalu menggunakan barang pribadi selama di kantor (alat tulis kantor, mouse, dsb)
    • Jaga selalu kebersihan meja kerja dan lingkungan kantor, terutama kebersihan toilet dan makanan.

    Baca Juga: Tips Mencegah Penularan Covid-19 di Area Perkantoran

    Jika Sahabat Sehat atau teman sekantor ada yang menderita penyakit menular, sebaiknya biarkan ia mengambil cuti agar dapat beristirahat dengan baik di rumah sampai penyakit tersebut sembuh total untuk mencegah penularan kepada orang lain di kantor. 

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai penyakit yang rentan terjadi di lingkungan kantor. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Share Verified. What does it feel like to have COVID-19? – Verified.
    2. Health Navigator. Respiratory tract infections.
    3. Mayo Clinic. Tuberculosis – Symptoms and causes.
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Practice Good Health Habits.
    5. World Health Organization. Tuberculosis (TB).
    6. Who.int. 2021. Hepatitis. [online] Available at: <https://www.who.int/health-topics/hepatitis> [Accessed 6 November 2021].
    7. Mayo Clinic. Diarrhea – Symptoms and causes.
    Read More
  • Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) merupakan salah satu imunisasi wajib yang harus diberikan kepada anak, yang dapat mencegah infeksi difteri, pertussis (batuk rejan) dan tetanus. Jika riwayat imunisasi tidak lengkap, Si Kecil beresiko menderita penyakit tersebut dikemudian hari.  Sahabat Sehat, apa saja hal yang perlu diperhatikan saat Si Kecil akan diberi vaksin DPT ? […]

    Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus) merupakan salah satu imunisasi wajib yang harus diberikan kepada anak, yang dapat mencegah infeksi difteri, pertussis (batuk rejan) dan tetanus. Jika riwayat imunisasi tidak lengkap, Si Kecil beresiko menderita penyakit tersebut dikemudian hari. 

    Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Hal yang Harus Dilakukan Sebelum Si Kecil Di Vaksin DPT

    Sahabat Sehat, apa saja hal yang perlu diperhatikan saat Si Kecil akan diberi vaksin DPT ? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Itu Imunisasi DPT?

    Sahabat Sehat, imunisasi DPT dapat memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit Difteri, Pertusis dan Tetanus. Penyakit Difteri menyerang tenggorokan dan saluran pernapasan dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Penyakit Tetanus merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf akibat infeksi bakteri tetanus pada luka yang terkontaminasi. Sementara penyakit Pertusis merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan yang ditandai dengan batuk berat dan kesulitan bernapas. 

    imunisasi anak di rumah, imunisasi anak hemat, imunisasi anak murah, imunisasi si kecil

    Persiapan Sebelum Imunisasi DPT

    Sebelum Si Kecil menerima imunisasi DPT, pastikan istirahat yang cukup dan berikan nutrisi yang seimbang. Apabila Si Kecil sedang demam maka dianjurkan menunda imunisasi. Apabila Si Kecil mengalami infeksi saluran nafas atas ringan tanpa disertai demam, maka umumnya bukan lah suatu penghalang untuk diberikan imunisasi DPT. 

    Bayi yang lahir prematur juga dapat tetap diberikan imunisasi sesuai dengan usia kronologis nya sejak dilahirkan. Apabila Si Kecil sedang menjalani pengobatan tertentu, dianjurkan berkonsultasi lebih dulu dengan dokter yang menangani. Pemberian imunisasi DPT dilakukan secara berhati-hati pada beberapa kondisi berikut:

    • Suhu tubuh mencapai 40,50C dalam 48 jam terakhir.
    • Tampak lemas dan tidak berespon dalam 48 jam terakhir.
    • Menangis hingga 3 jam atau lebih dan dialami dalam 48 jam terakhir. Dikhawatirkan setelah diberikan imunisasi DPT, Si Kecil menjadi semakin kurang nyaman dan rewel.
    • Kejang baik tanpa disertai demam maupun dengan demam dalam 3 hari terakhir. 

    Baca Juga: Imunisasi Untuk Si ABG yang Beranjak Remaja

    Jadwal Pemberian Imunisasi DPT

    Imunisasi DPT dasar diberikan sebanyak 3 kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6 minggu.

    • Dosis pertama diberikan pada usia 2-4 bulan,
    • Dosis kedua diberikan pada usia 3-5 bulan
    • Dosis ketiga diberikan pada anak usia 4-6 bulan.
    • Dosis keempat diberikan dengan interval 1 tahun sejak imunisasi DPT dosis ketiga diberikan, yaitu 18-24 bulan.
    • Dosis kelima diulang saat usia masuk sekolah yaitu 5-7 tahun.

    Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, tetap lanjutkan imunisasi sesuai jadwal. Bila anak belum pernah diimunisasi dasar pada usia <12 bulan, lakukan imunisasi sesuai imunisasi dasar baik sesuai jumlah maupun intervalnya.

    Baca Juga: Bagaimana Mengatasi Efek Samping Vaksin DPT atau Sering Disebut KIPI

    Apa Saja Reaksi KIPI Pasca Imunisasi DPT?

    Bagi Sahabat Sehat yang sudah memiliki anak, perlu mewaspadai efek samping pasca pemberian imunisasi atau disebut juga sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (disebut juga KIPI). Beberapa reaksi KIPI yang kerap dialami pasca Si Kecil disuntik imunisasi DPT, yaitu:

    • Demam
    • Anak rewel
    • Kemerahan di tempat suntikan
    • Nyeri dan bengkak di bekas suntikan yang akan hilang dalam 2 hari.
    • Nafsu makan menurun
    • Muntah.

    Jika Si Kecil mengalami gejala diatas, Sahabat Sehat dapat melakukan beberapa tips berikut:

    • Berikan minum dan makanan yang cukup agar Si Kecil tidak rewel.
    • Jika Si Kecil demam, kenakan pakaian tipis dan menyerap keringat. Beri kompres air hangat di dahi. 
    • Berikan kompres air dingin pada bekas suntikan untuk meredakan nyeri dan bengkak di bekas suntikan.

    Perlu diwaspadai apabila gejala tersebut menetap hingga lebih dari 3 hari, atau jika Si Kecil tampak lemas maka konsultasikan ke dokter.

    Baca Juga: Berapa Lama Bayi Demam Setelah Imunisasi DPT? Begini Cara Mengatasinya

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai persiapan sebelum Si Kecil diberikan imunisasi DPT. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Rusmil K. Melengkapi/ Mengejar Imunisasi (Bagian II).
    2. Saputra D. Imunisasi DPT, Manfaat, dan Kapan Vaksin DPT Diberikan.
    3. Joseph E. Your Child’s Immunizations: Diphtheria, Tetanus & Pertussis Vaccine (DTaP) (for Parents).
    4. Sari Pediatri. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Sari Pediatri. 2016;2(1):43. 
    5. Soedjatmiko. Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Safety Information for Diphtheria, Tetanus, and Pertussis Vaccines.
    7. Mayo Clinic. Diphtheria, Tetanus, And Acellular Pertussis Vaccine (Intramuscular Route) Side Effects.
    8. Centers for Disease Control and Prevention. Diphtheria, Tetanus, and Pertussis: Recommendations for Vaccine Use and Other Preventive Measures Recommendations of the Immunization Practices Advisory Committee (ACIP).
    Read More
  • Melakukan vaksinasi sebelum pergi liburan ke daerah tertentu merupakan hal yang perlu dipertimbangkan untuk meminimalkan resiko terjangkitnya penyakit. Vaksinasi yang dilakukan sebelum perjalanan banyak sekali jenisnya, tergantung daerah mana yang akan dikunjungi dan resiko penyakit apa yang ada di negara atau daerah tersebut. Melakukan vaksinasi sebelum bepergian juga bermanfaat agar tidak membawa pulang penyakit tersebut […]

    6 Jenis Vaksin Travel yang Penting Sebelum Pergi Liburan

    Melakukan vaksinasi sebelum pergi liburan ke daerah tertentu merupakan hal yang perlu dipertimbangkan untuk meminimalkan resiko terjangkitnya penyakit. Vaksinasi yang dilakukan sebelum perjalanan banyak sekali jenisnya, tergantung daerah mana yang akan dikunjungi dan resiko penyakit apa yang ada di negara atau daerah tersebut.

    6 Jenis Vaksin Travel yang Penting Sebelum Pergi Liburan

    6 Jenis Vaksin Travel yang Penting Sebelum Pergi Liburan

    Melakukan vaksinasi sebelum bepergian juga bermanfaat agar tidak membawa pulang penyakit tersebut ke daerah atau negara asal. Sahabat Sehat, apa saja jenis vaksin yang diperlukan sebelum traveling? Mari simak penjelasan berikut.

    Kapan Melakukan Vaksinasi Sebelum Bepergian?

    Sebelum berencana bepergian, buatlah janji dengan fasilitas kesehatan setempat untuk melakukan berbagai vaksinasi. Beberapa jenis vaksin membutuhkan waktu agar vaksin bekerja terlebih dahulu di dalam tubuh dan memberikan efek perlindungan.

    Vaksinasi sebelum berlibur menjadi hal yang penting terutama saat membawa anak-anak. Sebagai contoh, vaksinasi tifoid yang dapat melindungi dari infeksi Salmonella typhi yang menyebabkan tipes sebaiknya dilakukan sebelum bepergian.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Apa Saja Vaksinasi yang Diperlukan Sebelum Berlibur?

    Untuk memilih vaksinasi apa yang harus dilakukan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan melihat riwayat vaksinasi apa saja yang sudah pernah dilakukan, serta ke daerah mana kamu akan berkunjung dan setelah itu dokter akan menentukan vaksinasi yang tepat.

    Berikut ini beberapa contoh vaksinasi yang dapat Sahabat Sehat lakukan sebelum bepergian, antara lain:

    1. Vaksin Meningitis
      Vaksin ini penting terutama bila mengunjungi negara-negara di Afrika. Negara lain seperti Saudi Arabia, Eropa, Australia, dan Amerika juga memiliki kasus meningitis walau tidak sebanyak di Afrika.
    2. Vaksin Demam Kuning (Yellow Fever)
      Jika hendak melakukan perjalanan ke negara Afrika (Gana, Kenya dan Nigeria) disarankan untuk melakukan vaksinasi Demam Kuning atau Yellow Fever.
    3. Vaksin Hepatitis A dan B
      Saat masih usia anak-anak, rata-rata sudah mendapatkan vaksinasi Hepatitis A dan B. Namun, ada baiknya, sebelum melakukan bepergian, hendaknya melakukan pemeriksaan antibodi terlebih dahulu, apabila antibodi terhadap hepatitis A dan B sudah rendah, maka ada baiknya melakukan vaksinasi Hepatitis A dan B ulang sebelum melakukan perjalanan.
    4. Vaksin Tifoid dan Paratifoid
      Vaksinasi tifoid dilakukan untuk mencegah penyakit tipes saat melakukan perjalanan ke daerah dengan kasus infeksi tifoid tinggi misalnya negara-negara Asia Tengah (India, Pakistan dan Bangladesh).
    5. Vaksin Influenza
      Apabila hendak berlibur saat musim hujan seperti saat ini, ada baiknya untuk melakukan vaksinasi flu dulu sebelumnya.
    6. Vaksin Japanese Encephalitis
      Negara-negara di Asia dan sebagian Australia adalah daerah endemik penyakit Japanese encephalitis. Untuk menghindari terinfeksi penyakit ini, lakukan vaksinasi Japanese encephalitis minimal 1 bulan sebelumnya.

    Baca Juga: Inilah 3 Persiapan Penting Sebelum Traveling

    Tips Menghindari Penularan Penyakit di Daerah Tujuan

    Ada beberapa hal yang dapat Sahabat Sehat lakukan saat bepergian untuk mengurangi resiko masalah kesehatan saat berlibur, antara lain:

    • Menerapkan protokol kesehatan
    • Konsumsi makanan dan minuman yang bersih
    • Hindari minum sembarangan dari air keran
    • Lindungi diri dari gigitan serangga dengan menggunakan lotion anti serangga.
    • Gunakan tabir surya dan pelindung matahari lainnya
    • Gunakan perlengkapan alat pelindung keselamatan sesuai dengan aktivitas (misalnya, gunakan sabuk pengaman saat berkendara dengan mobil di negara tujuan)
    • Berhati-hati dalam kondisi lalu lintas
    • Ketahui cara mendapatkan pertolongan atau kondisi medis ditempat tujuan
    • Berhati-hati dalam menggunakan alkohol dilingkungan yang tidak anda kenal. 

    Baca Juga: Pilek dan Flu Saat Traveling? Cegah Sekarang Juga

    Nah Sahabat Sehat, itulah berbagai jenis vaksin yang penting sebelum berlibur. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia D
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Citizens Information. Travelling abroad and vaccinations [Internet]. USA : Citizens Information. 2021.
    2. Chang L. Your Travel Vaccine Checklist [Internet]. USA : WebMD. 2010.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. Holiday Tips [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention. 2021.
    4. National Health Service. Travel vaccinations [Internet]. UK : National Health Service. 2018.
    Read More
  • Memasuki akhir tahun, tidak jarang Sahabat Sehat mulai merencanakan bepergian ke berbagai destinasi. Salah satu persiapan yang harus Sahabat Sehat lakukan adalah mengikuti vaksinasi tifoid, sehingga rencana perjalanan berjalan dengan lancar. Tipes atau disebut juga sebagai demam tifoid, disebabkan oleh karena konsumsi makanan maupun minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella. Tipes dapat menyerang anak maupun […]

    Ketahui Pentingnya Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian

    Memasuki akhir tahun, tidak jarang Sahabat Sehat mulai merencanakan bepergian ke berbagai destinasi. Salah satu persiapan yang harus Sahabat Sehat lakukan adalah mengikuti vaksinasi tifoid, sehingga rencana perjalanan berjalan dengan lancar.

    Ketahui Pentingnya Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian

    Ketahui Pentingnya Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian

    Tipes atau disebut juga sebagai demam tifoid, disebabkan oleh karena konsumsi makanan maupun minuman yang tercemar oleh bakteri Salmonella. Tipes dapat menyerang anak maupun orang dewasa, dengan gejala bervariasi mulai dari ringan bahkan hingga dirawat di rumah sakit.

    Sahabat Sehat, pentingkah vaksin tifoid sebelum bepergian? Mari simak penjelasan berikut.

    Apa Gejala Tipes?

    Gejala dapat dialami dalam 1-3 minggu sejak terpapar bakteri Salmonella. Jika Sahabat Sehat mengalami demam, sebaiknya diperiksakan ke dokter sebab mungkin merupakan tanda menderita tipes. Selain itu, penderita tipes dapat merasakan beberapa keluhan berikut:

    • Lemas
    • Nyeri perut
    • Sakit kepala
    • Diare maupun konstipasi
    • Mual atau muntah
    • Nyeri otot
    • Nafsu makan menurun. 
    • Batuk kering

    Untuk mendiagnosis tipes, nantinya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta meminta Sahabat Sehat melakukan pemeriksaan lanjutan misal pemeriksaan darah dan feses.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Vaksin Tifoid Bagi Pelancong

    Tifoid atau disebut juga Tipes kerap ditemukan pada daerah yang sanitasinya buruk. Beberapa negara yang berisiko tinggi yaitu negara India, Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan. Vaksinasi direkomendasikan jika Sahabat Sehat berencana bepergian ke daerah tersebut ataupun tinggal di daerah tersebut dalam jangka waktu lama.

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Tifoid dan Jadwal Pemberian Vaksin Tifoid

    Vaksin Tifoid Dapat Mencegah Tipes

    Sahabat Sehat dapat mencegah tipes, salah satunya dengan menerima vaksin tifoid. Di Indonesia tersedia 2 jenis vaksin untuk mencegah tipes, yaitu:

    • Vaksin tifoid capsular Vi polisakarida

    Diberikan melalui suntikan, mulai dapat diberikan pada usia diatas 2 tahun dan dapat diulang setiap 3 tahun.

    • Vaksin tifoid oral Ty21a 

    Vaksin diberikan per oral, mulai dapat diberikan pada usia diatas 6 tahun dan dikemas dalam 3 dosis dengan interval pemberian selang sehari (hari 1,3, dan 5). Dapat diulang pemberiannya setiap 3-5 tahun sekali.

    Selain dengan pemberian vaksin, Sahabat Sehat tetap perlu melakukan beberapa hal berikut untuk mencegah tipes ketika bepergian yaitu :

    • Jaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi. 
    • Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir, sebelum dan sesudah makan.
    • Hindari minum air mentah
    • Hindari membeli makanan di tempat yang kurang bersih
    • Membawa bekal makanan maupun alat makan pribadi

    Baca Juga: Yuk Vaksinasi Mumpung Liburan Sekolah

    Nah Sahabat Sehat itulah mengenai pentingnya vaksin tifoid sebelum bepergian. Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: dr. Monica Cynthia Dewi

     

    Referensi

    1. Centers for Disease Control and Prevention.Typhoid Fever and Paratyphoid Fever [Internet]. USA : Centers for Disease Control and Prevention
    2. National Health Service. Vaccination Typhoid Fever [Internet]. UK : National Health Service.
    3. Satuan Tugas Imunisasi IDAI. Jadwal Imunisasi Rekomendasi IDAI. Sari Pediatri. 2000, June;02 (01): 43 – 47
    Read More
  • Penyakit menular melalui makanan bukanlah hal baru. Mungkin Sahabat Sehat juga sudah biasa diwanti-wanti saat kecil oleh orang tua harus cuci tangan sebelum makan agar tidak sakit. Ya, itu karena makanan bisa terkontaminasi kuman dari tangan yang kotor. Jaman sekarang, wisata kuliner adalah kegiatan yang sangat digemari. Ini menjadi salah satu agenda keluarga saat menghabiskan […]

    Penyakit Menular Melalui Makanan, Waspada Kulineran Selama Liburan

    Penyakit menular melalui makanan bukanlah hal baru. Mungkin Sahabat Sehat juga sudah biasa diwanti-wanti saat kecil oleh orang tua harus cuci tangan sebelum makan agar tidak sakit. Ya, itu karena makanan bisa terkontaminasi kuman dari tangan yang kotor.

    Jaman sekarang, wisata kuliner adalah kegiatan yang sangat digemari. Ini menjadi salah satu agenda keluarga saat menghabiskan waktu akhir pekan maupun liburan.

    Penyakit Menular Melalui Makanan, Waspada Kulineran Selama Liburan

    Penyakit Menular Melalui Makanan, Waspada Kulineran Selama Liburan

    Bagaimana rencana Sahabat Sehat berlibur panjang kali ini? Mungkin Anda sekeluarga sudah merencanakan untuk jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri, mengunjungi tempat wisata, bertemu sanak saudara, dan sebagainya. Selain harus tetap memerhatikan protokol kesehatan, Anda juga harus tetap mewaspadai santapan makanan atau jajanan yang akan dikonsumsi.

    Tahukah Anda bahwa makanan yang tidak ditangani sesuai prosedur yang benar, berisiko terkontaminasi kuman, bakteri, ataupun virus hingga menyebabkan penyakit yang menyebar melalui makanan (food borne disease). Risiko kontaminasi makanan bisa terjadi pada tahap penyiapan bahan, proses pengolahan, penyajian, pengemasan, penyimpanan, hingga pengantaran.

    Bahaya Demam Tifoid dari Makanan

    Salah satu penyakit yang bisa ditularkan dari makanan yang terkontaminasi adalah demam tifoid atau yang lebih dikenal dengan tifus/ tipes. Demam tifoid merupakan infeksi saluran pencernaan yang disebabkan serangan bakteri Salmonella typhi. Setelah terinfeksi, penderita dapat terserang diare atau sulit buang air besar dan sakit perut. Bakteri kemudian akan masuk ke aliran darah sehingga terjadi demam.

    Demam tifoid bersifat endemis di seluruh dunia, bisa terjadi setiap tahun, dan tidak dipengaruhi oleh musim. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, terdapat 26 juta kasus demam tifoid di dunia setiap tahun. Penyakit ini menyebabkan 215.000 kematian setiap tahun.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    Orang yang terinfeksi tifoid memiliki gejala demam yang bisa mencapai 39-40 derajat celcius, terutama pada malam hari. Gejala lainnya, antara lain, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, berkeringat, batuk kering, dan kehilangan nafsu makan.

    Selain itu, gejala paling umum saat seseorang terkena tifoid yaitu sakit perut. Pada anak-anak, tifoid akan menyebabkan diare, sedangkan orang dewasa cenderung mengalami konstipasi atau gangguan pencernaan yang membuat seseorang buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu.

    Baca Juga: Perlukah Vaksin Tifoid Sebelum Bepergian?

    Virus Hepatitis A Menyebar Lewat Makanan Minuman

    Hepatitis A adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang menginfeksi sel-sel hati dan menyebabkan peradangan. Virus ini dengan mudah ditularkan melalui oral, terutama lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi. Risiko ini meningkat pada makanan atau jajanan pinggir jalan yang umum ditemukan di jalanan-jalanan tanah air.

    Tanda dan gejala penyakit ini adalah demam, malaise (lemah lesu), anoreksia (tidak nafsu makan), gangguan perut serta mata tampak berwarna kuning (ikterus). Masa inkubasi (jarak antara virus masuk ke tubuh dan gejala timbul) berkisar antara 15 sampai 50 hari, rata-rata 28-30 hari.

    Baca Juga: Cara Mencegah Hepatitis A Bagi Kamu yang Suka Kulineran

    Pentingnya Vaksin Tifoid dan Vaksin Hepatitis A

    Selain pentingnya menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dengan bersih, konsumsi makanan yang matang, selektif memilih jajanan, tentu ada langkah pencegahan yang dapat Moms lakukan bersama keluarga, yaitu vaksinasi.

    Vaksinasi tifoid dapat dilakukan setiap tiga tahun sekali, gunanya untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari bakteri Salmonella typhi. Vaksin tersebut sudah bisa diberikan dalam satu dosis sejak anak berusia dua tahun hingga orang dewasa.

    Sedangkan vaksin hepatitis A dapat dilakukan pada:
    – Anak usia 12-24 bulan. Bila terlewat, ia bisa dapatkan pada usia 2-18 tahun.
    – Orang yang bepergian atau bekerja di negara endemi hepatitis A.
    – Orang dengan pekerjaan risiko tinggi terinfeksi virus hepatitis A.
    – Pekerja restoran atau penjual makanan.

    Bagi Anda yang membutuhkan layanan vaksin Tifoid dan Vaksin Hepatitis A kini tak perlu repot mencarinya, karena ProSehat sudah menyiapkan kebutuhan ini. Vaksin dapat dilakukan di Klinik maupun tenaga medis yang akan mendatangi rumah Anda.

    Baca Juga: Gejala Hepatitis A, Benarkah Mirip Influenza?

    Jika Sahabat Sehat membutuhkan layanan konsultasi dokter, layanan vaksinasi, imunisasi anak, layanan medical check uplayanan fisioterapipemeriksaan laboratorium, multivitamin, dan produk kesehatan lainnya, segera manfaatkan layanan Prosehat yang turut menyediakan layanan Chat Dokter 24 Jam

    Informasi lebih lanjut, silahkan hubungi WA Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: Redaksi Prosehat
    Ditinjau oleh: dr. Nurul L


    Referensi

    1. kompas.id.2021. Waspadai Penularan Demam Tifoid lewat Kontaminasi Makanan
      2. detikhealth.2018. Jajan Sembarangan Saat Mudik? Waspadai Risiko Hepatitis A
      3. sehatnegeriku.kemkes.go.id.2015. Mengenal Hepatitis A.
    Read More
  • Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memaparkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat penyakit meningitis, yaitu kondisi peradangan dan infeksi selaput otak. Jika tidak ditangani dengan tepat 50% kasus meningitis akan berakhir pada kematian. Apa yang menjadi penyebab infeksi otak Meningitis dan bagaimana cara pencegahan penyakit meningitis ? Mari simak penjelasan […]

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memaparkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang kasus dan kematian tertinggi di Asia Tenggara akibat penyakit meningitis, yaitu kondisi peradangan dan infeksi selaput otak. Jika tidak ditangani dengan tepat 50% kasus meningitis akan berakhir pada kematian.

    Apa yang menjadi penyebab infeksi otak Meningitis dan bagaimana cara pencegahan penyakit meningitis ? Mari simak penjelasan berikut.

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Penyebab Infeksi Otak Meningitis dan Cara Mencegahnya

    Apa Itu Penyakit Meningitis?

    Meningitis merupakan kondisi peradangan pada selaput lapisan otak atau yang disebut dengan meninges. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus dan jamur yang menginfeksi cairan otak dan tulang belakang. Selain itu beberapa kondisi medis lainnya dapat menyebabkan meningitis, yaitu cedera kepala, kanker, efek samping obat dan komplikasi infeksi pada area tubuh lainnya.

    Penyebab Meningitis

    Berikut adalah beberapa organisme yang menyebabkan meningitis, yaitu:

    • Meningitis Bakteri
      Disebabkan oleh beberapa jenis bakteri, seperti Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, Neisseria meningitidis, Listeria monocytogenes.
    • Meningitis Virus
      Meningitis virus adalah infeksi selaput otak yang disebabkan karena infeksi virus, seperti enterovirus, mumps, virus HIV, virus herpes simplex, virus west nile. Biasanya meningitis virus memiliki gejala yang tergolong ringan dan dapat pulih dengan sendirinya dibandingkan dengan meningitis bakteri.

    vaksin ke rumah, layanan ke rumah, vaksinasi di rumah aja

    • Meningitis Jamur
      Meningitis jamur biasanya menyerang seseorang dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita penyakit autoimun, kanker dan penyakit kronis tertentu (misalnya, HIV/AIDS). Beberapa jamur yang dapat menyebabkan meningitis antara lain cryptococcus, Blastomyces, histoplasma dan coccidioides yang terdapat pada kotoran hewan seperti burung dan kelelawar.
    • Meningitis Parasit
      Biasanya disebabkan karena parasit Angiostrongylus cantonensis dan Baylisascaris procyonis yang menginfeksi melalui makanan yang tercemar kotoran seperti siput, ikan dan unggas.
    • Meningitis Amoeba
      Meningitis yang disebabkan karena amoeba sangat jarang terjadi.Amoeba yang menyebabkan meningitis adalah Naegleria fowleri yang biasanya disebabkan karena mengkonsumsi air minum dari alam bebas yang tercemar amoeba ini.

    Baca Juga: Manfaat Vaksin Meningitis dan Yellow Fever Sebelum Umroh

    Gejala Meningitis

    Secara umum gejala meningitis pada fase awal sangat mirip dengan gejala influenza. Berikut ini gejala meningitis secara umum, yaitu:

    • Demam 
    • Leher kaku
    • Nyeri kepala berat
    • Nyeri kepala disertai dengan mual dan muntah
    • Sulit berkonsentrasi
    • Kejang
    • Mengantuk dan sulit berjalan 
    • Sensitif terhadap cahaya 
    • Nafsu makan menurun
    • Kemerahan pada kulit 

    Jika mengalami keluhan diatas, sebaiknya Sahabat Sehat segera memeriksakan ke dokter agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

    Baca Juga: Pentingnya Vaksin Meningitis Untuk Calon Mahasiswa Luar Negeri

    Tips Mencegah Meningitis

    Untuk mencegah meningitis Sahabat Sehat dianjurkan melakukan berbagai hal berikut: 

    • Mencuci tangan setiap kali selesai beraktivitas atau sebelum makan.
    • Memasak makanan hingga matang 
    • Menggunakan masker bila sedang sakit
    • Hindari kontak dengan pasien yang sedang terinfeksi
    • Jangan berbagi makanan atau minuman yang sedang dimakan atau barang pribadi (pisau cukur, lipstick, sikat gigi)
    • Menerapkan pola hidup sehat, misalnya olahraga teratur dan cukup istirahat minimal 7-9 jam
    • Mengikuti vaksinasi, seperti vaksin meningitis, vaksin PCV (pneumococcal), maupun Vaksin Hib (Haemophilus influenzae B), untuk melindungi dari kuman penyebab meningitis.

    Baca Juga: Selain Haji dan Umroh, Vaksin Meningitis Juga Penting untuk Ke Timur Tengah dan Afrika

    Nah Sahabat Sehat, itulah mengenai penyakit meningitis yang menginfeksi selaput otak. Jika Sahabat Sehat berminat menerima vaksinasi untuk mencegah meningitis, segera manfaatkan layanan imunisasi ke rumah dari Prosehat. Informasi lebih lanjut hubungi Asisten Kesehatan Maya 08111816800 atau klik /wa.

    Ditulis oleh: dr. Jesica Chintia Dewi
    Ditinjau oleh: dr. Monica C

     

    Referensi

    1. Antara News. Setahun mengenang Glenn Fredly, ketahui gejala meningitis pada anak. Indonesia : Antara News.
    2. Centers for Disease Control and Prevention. Meningitis. USA :  Centers for Disease Control and Prevention.
    3. Centers for Disease Control and Prevention. About Bacterial Meningitis Infection. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    4. Centers for Disease Control and Prevention. Viral Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    5. Centers for Disease Control and Prevention. Fungal Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    6. Centers for Disease Control and Prevention. Parasitic Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    7. Centers for Disease Control and Prevention. Amebic Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    8. Centers for Disease Control and Prevention. Non-Infectious Meningitis. USA : Centers for Disease Control and Prevention.
    9. Mayo Clinic. Meningitis – Symptoms and causes. USA : Mayo Clinic.
    10. Cassoobhoy A. Meningitis (Bacterial, Viral, and Fungal). USA : WebMD.
    Read More
Chat Asisten Maya
di Prosehat.com